Profil
Komunitas Pusat Studi Dan Pengembangan Kebudayaan alias PUSPeK Averroes bisa dibilang sebagai sub kultur (mungkin juga cross culture) dari Averroes Community, baik secara historis maupun secara emosional. Sebagai lembaga tertua di Averroes, kesejarahan Puspek so pasti include dalam sejarah panjang Averroes Community nan penuh romantika dan bunga-bunga api.
Dari ngobrol dengan beberapa founding fathers terungkap bahwa (PUSPeK) Averroes bermula dari style anak muda kala itu, di saat menjamurnya kelompok-kelompok kajian di berbagai situs gerakan mahasiswa. Atas inisiasi beberapa aktivis muda kultural di Malang seperti Saiful Arif, Badi’ Zamanil Masnur, Sofyan J Anom, wa ‘alaa aaliihi wa shohbihi ajma’in, terbentuklah kelompok studi yang diberi nama Averroes Studies Forum (ASF) sekitar pertengahan tahun 1995. Hadirnya ASF pada hakekatnya adalah berhajat untuk mengukuhkan diri sebagai bagian dari gerakan intelektual muda. Dengan hanya berbekal semangat, ASF memang terlalu “hijau” dalam banyak hal -terutama dari segi qualifikasi- untuk mengidentifikasi diri layaknya intelektual beneran. Namun, upaya terus menerus yang dilakukan oleh orang-orang muda di ASF cukup berarti. Melalui intensitas diskusi dan penyebaran karya-karya tulisan di media-media lokal seperti Malang Pos dan media nasional seperti Jawa Pos, Surya, maupun Kompas telah sedikit menghantarkan ASF dikenal di Malang, terutama di kalangan organisasi-organisasi mahasiswa dan kepemudaan.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. ASF lantas mulai berhitung untuk berbenah diri. Banyak hal, mulai dari memperbesar komunitas, pembenahan di tingkat aksi, dan yang lebih penting adalah orientasi kajian. Cukup menggembirakan ketika ASF bisa diterima sebagai tempat berteduh bagi berbagai aktifis di Malang dengan beragam identitas budaya dan disiplin ilmu. Berangkat dari apresiasi yang menggembirakan ini, ASF kemudian mewadahi potensi yang besar itu dalam sebuah bingkai kelompok kajian yang luas fokus garapannya. Dari sinilah ASF lantas memaknai kebudayaan sebagai naungan bersama, sebab intepretasi kebudayaan tidak semata mata dalam definisi Koencoroningrat, apalagi sekedar disama artikankan dengan seni. Lebih dari itu kebudayaan bisa dimaknai laiknya warna warni kehidupan beserta dinamikanya. Kebudayaan selalu bisa dibincang di dalam berbagai ruang, baik politik, ekonomi, sosial, agama, maupun budaya dalam spektrum disiplin antropologi. Namun kompleksitas cakupan kebudayaan bukan berarti lantas membuat kerja-kerja ASF yang telah dilakukan bertahun-tahun menjadi ambigu dan kabur. Justru dengan terma kebudayaan punggawa Averroes ingin mempertegas identitasnya dengan mengamban misi “Membangun Wacana Kritis Rakyat”
Untuk memenuhi target seperti di atas, maka pada tanggal 20 Mei 1998 ASF merubah namanya menjadi Pusat Studi dan Pengembangan Kebudayaan (PUSPeK) AVERROES. Pengambikan nama kebudayaan dalam AVERROES, tentu bukan karena ingin menjadikannya sebagai satu-satunya otoritas pengembang kebudayaan, namun pada upaya untuk menuntun eksplorasi pemikiran. PUSPeK Averroespun harus menata kelembagaan ketika penuangan gagasan pemikiran tidak cukup mengandalkan media massa yang terbatas. Atas pertimbangan strategis, pegiat PUSPek Averroes menggagas untuk membentuk organ sayap penerbitan, Averroes Press. Untuk kepentingan strategis pula kelembagaan PUSPeK Averroes harus memiliki legitimasi yuridis sehingga terbentuklah Yayasan Averroes berbekal Akte Notaris H. Chusen Bisri, SH No.16 Tanggal 13 November 2001. PUSPeK Averroes dan Averroes Press akhirnya menjadi Lembaga otonom di Bawah Yayasan Averroes.
Tahun 2004 Yayasan Averroes membentuk dua lembaga baru, 1.Placid’s Averroes yang concern terhadap Kebijakan Publik dan community development, serta 2.Averroes Bisnis Center yang fokus terhadap kajian dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Setelah Konggres Yayasan Averroes tahun 2007, Averroes status hukumnya berubah menjadi Perkumpulan. Pada perkembangan terkini, Averroes Community juga mengapresiasi keinginan para averroes untuk secara khusus mewadahi kajian gender hingga terbentuklah Komunitas Study Gender (KSG) di tahun 2008.
Curriculum Vitae Puspek Averroes
-
Dialog Sipil - Militer Seminar Bahaya Utang Luar negeri bersama dengan IRRI Pact INFID, Jakarta [Tahun 1999 ]
-
Orasi Budaya “Padamu Negeri” Bersama dengan Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) di Malang [ Tahun 2000 ]
-
Polling “Pembubaran KAMRA” [ Tahun 2000 ]
-
Seminar” Manajemen Pelayanan Publik di Kab. Malang” [ Tahun 2001 ]
-
Seminar “Agama & Kekerasan Global” bersama dengan ICRP [ Tahun 2002 ]
-
Mengelola Program Penerbitan Lembar Budaya di Media Massa [ Jawa Pos-Radar se-Jatim, Republika-Kalam, Jawa Timur, Harian Surya, Harian Duta Masyrakat [Tahun 2002- 2006]
-
Workshop Pemetaan Problem Kebudayaan di Jawa Bagian Timur [Tahun 2003]
-
Workshop Pemetaan dan Pendampingan Kebudayaan Terhadap Kelompok Minoritas Korban Persitiwa G 30 Surabaya Tahun 1965 [Tahun 2003]
-
Talk Show Berbincang Budaya [on air] di Radio TT 77, Malang setiap Hari Jumat (2003-2005)
-
Workshop Revitalisasi Kesenian Marjinal, di Ponorogo [Tahun 2002 dan 2004]
-
Penerbitan Lembar “Ngaji Budaya” di Harian Duta Masyarakat setiap bulan sekali pada Hari Jumat, minggu keempat. (2004)
-
Workshop dan Pendampingan Komunitas Tengger [Tahun 2003- sekarang].
-
Pendampingan korban aksi teror terhadap GKJW Kedungkandang Malang
-
Pelatihan Filsafat Dan Multikultutrralisme untuk Mahasiswa (2005-Sekarang)
-
Pendampingan kasus penyesatan agama, Yusma Roy (Lawang, Kabupaten Malang Malang), Ali Toha, (Ngajum, kabupaten Malang) dan Saksi Saksi Yehova (Batu)
-
Pendampingan aspek kemanusiaan terhadap kalangan minoritas korban Peristiwa G 30 Surabaya tahun 1965 di Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Blitar. [Tahun 2003 – 2006]
-
Pendampingan terhadap kesenian tradisi di Malang seperti; Ludruk, Wayang Topeng dan Jaranan [Tahun 2002 – sekarang]
-
Pluralisme Watch (2004-Sekarang)
-
FGD Politisasi Agama Dalam Pilwali Batu 2007 (2007)
-
Pendidikan Multikultural untuk Siswa SMU tahun 2007-2008
-
Penerbitan Majalah Jelajah ; Agama dan kebudayaan (2008)
-
Diskusi Kemisan tentang Filsafat, Agama dan Kebudayaan (2005-Sekarang)
Direktur PUSPeK Averroes
1. Saiful Arief (1998-2000)
2. Dedi Bejo (2000-2001)
3, Fadhillah Putra (2001-2002) [Di bawah naungan Yayasan Averroes]
4. Paring Waluyo Utomo (2002-2007) [Di bawah naungan Yayasan Averroes]
5. L. Riansyah (2007-2010) [Di bawah naungan Averroes Community]
