Teori Sistem : Menuju Kemashlahatan Ekologis dan Humanitas
Sep 8th, 2008 | By PUSPeK Averroes | Category: REVIEW BUKUOieh ; L. RIANSYAH
JUDUL : Jaring-Jaring Kehidupan : Visi Baru Epistemologi dan Kehidupan
(Judul Asli The Web Of Life (1997)
PENULIS : Fritjof Capra ; PENERBIT : Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta
TAHUN : 2002
PENDAHULUAN
Kupu-kupu yang menggerak-gerakkan sayapnya di udara di Beijing hari ini dapat menyebabkan
badai di New York bulan depan….
Capra (Jaring-Jaring Kehidupan, 2002: 199)
MESKI bukan tergolong buku baru, karya Capra ini masih ‘agak dijauhi’ oleh para pembaca karena memang diperlukan waktu dan kapasitas yang `lebih’ untuk memahami secara utuh berbagai tawaran Capra. melalui buku yang berjudul Web Of Life ini. Karena itulah di bagian pengantar, tokoh Fisikawan Postmodern ini menganjurkan kepada pembaca untuk melewati beberapa Bab yang membahas secara akademis tentang Matematika dan Fisika yang tentunya susah difahami bagi mereka yang tidakconcern dengan Ilmu Sains. Karenanya, mungkin tulisan ini tidak akan banyak membantu untuk menelanjangi buku setebal 496 halaman mi, namun setidaknya dari sini akan memunculkan sekian pertanyaan (dan tanda tanya) untuk menyelami lebih jauh clam pemikiran dan elaborasi pengetahuan yang diramu oleh Capra yang sarat akan refleksi (semogaaa…).
Dalam buku ini, Capra mengeluarkan analisis-analisis yang terhitung subversif terhadap fondasi pengetahuan sains yang dikenal kokoh dan angkuh. Tulisannya sangat cemerlang, kritis, dan secara paradigmatik melakukan koreksi total terhadap positivisme sains beserta dua anak kandungnya, modernitas dan industrialisasi. Kecemerlangannya mungkin akan mengingatkan kita pads dua fisikawan besar yang lain, yakni Einstein dan Stephen Hawking. Einsteisn dengan teori relativitasnya mampu meruntuhkan mitos “kepastian” dalam hukum fisika yang selama beratus-ratus tahun dikibarkan oleh fisika newtonian. Sementara Hawking, -sang penerus Einstein-, mampu mempemalukan “gurunya”, Fred Hoyle dengan “menghajar” teori keabadian alam semesta. Hawking -peraih gelar Profesor Matematika di Cambridge University ini- mengkritik model teori keadaan lunak (steady state) Hoyle dan mampu membuktikan tentang singularitas dentuman besar sebagai teori asal muia semesta.1
CAPRA DALAM PETA FILSAFAT SAINS
Lanskap pengetahuan alam (fisika, kimia, dan biologi) memiliki kesejarahan yang panjang dalam sejarah peradaban dunia yang pergulatannya hampir bersamaan dengan sejarah filsafat. Perkembangan sains mengalami pencapaian yang selalu progress pada setiap fase-fase sejarah. Dalam peta epistemologi, nuansa sains mulai nampak kuat dan hegemonic pada fase filsafat atomisme matererialistik.2 Dari genealogi filsafat inilah lahir filosof-filosof Sains seperti Archimedes, Bacon, Boyle dan sebagainya. Pada masa abad pertengahan, aliran filsafat ini sempat terpinggirkan. Namun seiring dengan abad pencerahan dan kelahiran filsafat modern, aliran filsafat sains mulai bangkit dengan dipelopori oleh Galileo, Boyle, dan Dalton. Secara simplisit, fase peradaban eropa terbagi dalam empat tahap yakni : 1)Mistisisme 2)Rasionalisme 3)hegemoni gereja (Abad kegelapan), dan terakhir 4)Rasionalisme empirik. Rasionalisme Empirik inilah yang melahirkan melahirkan August Comte (1797-1857), penggagas Fisika Sosial (positivisme).
Seiring dengan laju positivisme, peradaban Eropa sudah mengalami kemajuan luar biasa di bidang penemuan-penemuan ilmu sains dan industri. Lahirlah era modern yang bersamaan dengan hiruk pikuk saintek, khususnya di bidang fisika dan mekanika. Era ini ditandai dua potret yang mencolok. Pertama pengetahuan alam telah sampaii pada titik apriori ; obyektif, metodologis, “bebas nilai”, rasional-empiris sehingga tidak hanya meminggirkan “metafisika” tetapi juga menggusur pengetahuan yang tidak rasional-empiris. Kedua, arus revolusi industri yang mampu menghasilkan mesin-mesin yang digunakan untuk “menundukkan” alam dan menguras segala isinya.
Modernitas tidak hanya menghadirkan pengetahuan yang pasti dan teknologi yang teruji, akan tetapi jugs menyedian perangkat procedural ilmiyah tentang ketidakpastian dan ramalan-ramalan yang bisa dihitung dengan angka. Dalam riset social misalnya, statistika menyediakan perhitungan sekian persen yang hampiran (metode numerik) dengan realitas sebenarnya yang yang dimodelkan secara matematis.
Sampai pada akhirnya, lahirlah Einstein yang menggugat kesombongan sains. Dengan hukum relativitas lahirlah Fisika Kuantum. Fisika Kuantum menyatakn bahwa dunia di sekeliling kita tersusun atas molekul-molekul, atom dan sub-atom yang tidak stabil. Partikel-partikel ini saling berinteraksi, menghasilkan partikel baru dan sebaliknya bisa saling memusnahkan. Paradigma ini seakan mendekatkan sains yang sebelumnya membangun dunianya sendiri yang serba pasti, dibalik lagi pada kosmologi alam yang dinamis dan lekat dengan siklus semeseta yang fana’ (kelahiran, kehidupan, dan kematian). Relativitas Einstein inilah yang menampar wajah saintist newtonian. Bahwa semesta ini bukanlah kumpulan benda objek yang terpisah, melainkan berupa jaringan yang terbentuk dari hubungan antara bagian-bagian atau entitas penyusun dari sesuatu yang tunggal. Di sisi lain, lahirnya rumus E=mc2 telah menempatkan hukum matematika selalu selalu berada dalam dimensi ruang dan waktu, tidak universal dan abadi.
Einstein menjadi sumber inspirasi bagi Capra (yang juga seorang fisikawan) untuk menempatkan Fisika Einsteinian sebagai jalan membuka kontemplasi alam semesta. Selain Einstein, Capra juga menyerap berbagai filsafat Timur terutama India dan China. Menurut Avandhuta (2006) Capra sangat diilhami oleh spiritualis Tantrika Tagore.3 Itulah mengapa Smith (2004 : 1830) menganggap bahwa Capra telah berhasil melampau hegemoni Fisika modern dengan pendekatan seMI-Metafisis dimana dia mampu menggambarkan ia1terdepndensi dan keseimbangan berbagai entitas alam semesta yang hampir sejalan dengan filsafat Timur seperti Budhisme, Zen, atau tarian Siwa dalam Hinduisme.
3 Tahun 1926, Heisenberg (rekan Capra) bertamu ke penyair besar India, Rabindranath Tagore. Mereka sempat berdiskusi serius membincang sains dan filosofi India. Heisenberg kemudian berkata kepada Capra, “Perkenalan saya dengan spiritualitas India membawa banyak pencerahan. Sebelumnya saya dan para ahli rekan saya sangat sulit untuk menerima bahwa relativitas, keterkaitan (interconnectedness) dan ketidak-kekalan (impermanence) merupakan aspek dasar bagi dunia fisik. Disana saya belajar, bahwa hal ini merupakan landasan tradisi spiritual India. Setelah melakukan perbincangan dengan Tagore, beberapa ide yang semula sangat tidak masuk akal, tiba-tiba menjadi jauh lebih masuk akal. Hal ini benar-benar membantu saya.”
TEORI SISTEM : MERUNTUHKAN HEGEMONI POSITIVISME PENGETAHUAN
Dahulu waktu ngaji di tempat kiai saya, belau pernah bertutur, “Dunia ini pasti akan kiamat. Namun selama, masih ada orang ‘alim yang yang mengagungkan asma Allah, maka hari Kiamat akan ditunda.” Saya hampir berani memastikan, teori fisika modern manapun tidak akan menerima statemen ini sebagai bagian dari hukum kausalitas alam semesta. Petuah sang kiai tadi nampak lebih mendapatkan tempat diruang metafisis yang selalu berpijak pada intuisi dan keyakinan imanensi. Namun nampaknya, Capra - sang fisikawan posmodern- memberikan ruang untuk pengetahuan “metafisis” ini. Satu hal vang menarik dari apa yang dikupas oleh capra dalam buku adalah tentang teori sistem. 4
Nampaknya teori sistem menjadi salah satu kata kunci yang ditawarkan oleh Capra untuk mengantarkan pada penting yang textimbun dalam narasi narasi saintifiknya. Meski memerlukan sedikit ‘kerja keras’ untuk menangkap ilustrasi berbasis ilmu eksct ini. Sebenarnva Capra selalu memberikan penjelasan-penjelasn yang cukup detil, namun memang hams diakui andai sang pembaca memilild sedildt wawasan Ilmu MIPA, mungkin penjelasan itu bisa ditangkap lebih jernih. Misalnya dalam mengungkaP gerak pendulum (Hal 196-198). Berjejak pada konsep fisika, Capra merepresentasikan tiga tipe umum dalam gerak pendulum, yakni 1) gerak penarik periodik 2)oskilasi peridik, dan terakhir 3)penarik aneh atau disebut juga Penarik Ueda.5 Yang lain, Capra juga mengulas tentang kesemrawutan sel-sel penvusun organisme dalam kacamata biologi yang dengan artikulatif bisa dia nyatakan sebagi sebuah jejaring sirkuit vang kompleks namut teratur. Dari elaborasi yang terakhir, Capra menarik analogi yang menempatkan manusia sebagi bagian dari kesemrawutan semsta yang sangat dimungkinkan juga tersusun secara dinamis dan holistik, hanya manusianya saja yang belum menemukan detail pemodelannya.
Dari semua itu, Capra hendak menyatakan bahwa fenomena yang nampaknya kacau dan tidak lazim (tid.ak ilmiah), sebenarnya memiliki keteraturannya sendiri. Ini semakin menunjukkan bahwa semua gerak di alam ini memiliki “fungsi ilmiah”nya sendiri yang kadang terjangkau ilmu matematika dan kadang belum terjangkau. Ternyata alam ini lebih memiliki sistem yang harmoni daripada pengetahuan manusia, bahkan pengetahuan yang dianggap paling akurat, matematika.
Jika dipandang dalam perspektif ini, nampaknya kita akan menjadi ragu, apakah ilmu matematika benar-benar merupakan ilmu pasti? atau hanya sekedar alat representasi realitas/fenomena yang mungkin lebih pasti dan berada dalam keteraturannya? Hal ini semakin ganrblarag ketika Capra merepresentasikan tentang geometri fraktal (hal 203-214)6 Dalam sudut pandang yang ditawarkan Capra, kita akan berfikir ulang tentang geometri. Bahwa nyatanya yang mampu diukur di Geometri secara pasti hanya benda-benda
yang memiliki bentuk mulus. Padahal, secara nyata benda-benda di alam semeseta ini tidak selalu mulus seperti yang diharapkan ilmu geometri, seperti bentuk gunung, bentuk daun, bentuk batu dsb. Geometri fraktal menawarnya pengukuran terhadap bentuk-bentuk “tidak mulus”, namun pengukuran itu tidak menghasilkan perhitungan kuantitatif, akan tetapi kualitatif. 6eometri fraktal memang bisa merepresentasikan bentuk tidak karuan dalam representasi angka, meski tidak bisa mengukut kepastiannya secara kuantitatif. Lagi-lagi kita dibuat berefleksi secara ilmiyah, apakah bentuk-bentuk yang tidak teratur di alam ini benar-benar tidak teratur, ataukah mereka memilki keteraturan dalam dimensi yang tidak terukur oleh angka atau bahkan tidak terbanyangkan oleh kita?
Inilah yang beberapa hal yang “sempat terbaca” dari sekian argumentasi Capra tentang Teori Sistem Semesta. Intinya, dari berbagai pelacakan-pelacakan saintifik multi-disipliner ini, Capra seperti ingin semakin mempertegas bahwa hidup manusia di alam semesta adalah bagaikan jaring sistem yang teratur dan holistik. Hidup manusia tidak akan berlangsung Ianggeng jika tidak menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari alam semesta dan sebaliknya. Dia memang piawai dalam menulis dengan gaya memadukan sains yang ketat dengan riset-riset alternatif dan dibidik secara reflektif. Bahkan dia berpretensi melakukan revitalisasi terhadap metafisika yang dipadu dengan sains sehingga mampu melahirkan pengetahuan yang lembut, organis dan berparadigma sistem.
Dengan kesadaran refleksi-kritis dan berpijak kepada basic keilmuanya, Capra berkali-kali memberi catatan kritis kepada logika Cartesian dan Newtonian yang masih dipegang oleh Ilmuwan Barat sebagai paradigma tunggal untuk mendefinisikan dunia. Karena menurutnya, -dari berbagai tulisan dan eksplorasi di buku ini tentunya-, paradigma sains yang seperti itu selain absurd juga telah menghancurkan kebudayaan barat bahkan kebudayaan dunia. Keresahannya ini kemudian menjadikan dia lebih memiliki apresiasi yang lebih kepada paradigma pengetahuan Timur. Mungkin dalam bukunya yang lain berjudul Tao Of Phyisic, kita bisa mendapatkan apresuiasinya tersebut secara lebih dalam. Juga dalam literatur lain yang saya baca sempat dikatakan bahwa :
Capra mengusulkan ada paradigma yang mampu melihat alam sebagai sesuatu yang wholeness untuk mendesain kembali budaya dunia. Dia menghendaki agar Filsafat China yaitu I Ching digunakan dalam menformulasikan paradigma baru tersebut. Menurutnya Filsafat China tersebut mampu melihat dunia sebagai suatu sistem, (Tafsir,2003 : 264)
Saya pada titik ini terkagum-kagum dengan Capra karena melalui bukunya ini seakan-akan dia sepakat dengan Firman Tuhan yang pernah kubaca :
Qul lau kaanal bahru midaadan li kalimaati rabbii lanafidal bahru qabla an tanfada kalirnaatu
rabbii walauu ji’na bimitslihi madadaa (Q.S Al Kahfi :109)
SAINS DAN ETIKA EKOLOGIS
…
Kawan coba dengar apa jawabnya
Ketika dia kutanya mengapa
Bapak Ibunya telah lama mati
Ditelan bencana tanah ini
…
Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanah ku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang
[Beberapa Bait dari Lagu BERITA KEPADA KAWAN KARYA Ebiet G.AD]
Andai saja, Ebiet adalah seorang fisikawan mungkin dia bisa menopang perjuangan Capra untuk mengarahkan ilmu pengetahuan sehingga lebih diorientasikan bagi keseimbangan alam. Namun Ebiet hanyalah seorang musisi, yang lantunan syaimya di atas hanya dijadikan musik pengiring iklan penggalangan dana korban bencana alam di televisi. Meski begitu, terlepas seorang fisikawan sosiolog, agamawan, guru, ataupun seniman, nampaknya sudah banyak yang memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga stabilitas ekologis. Gerakan kesadaran ini memang belum cukup kuat untuk membendung kekuatan kapitalisme global yang serakah dan eksistensinya ditopang dengan percepatan perkembangan sains dan teknologi.
Buku ini sering menyorot tajam terhadap kalangan ilmuwan yang menurut Capra terjebak dalam cara pandang mekanik, sehingga tak heran jika saintist kemudian menjadi abdi industri dalam penghancuran ekologi dan lingkungan. Tidak hanya dalam jaring-Jaring Kehidupan, dalam karyanya lang lain seperti The Hidden Connection : Strategi Sistemik Melawan Kapitalisme Baru, Capra tak bosan untuk mengingatkan kaum iratelektual bahwa paradigma Cartesian dan Newtonian telah menjerembabkan di.ri pada mitos palsu, “manusia modern”. Modernitas memandang semua aspek kehidupan pendekatan kausalitas dan melakukan mekanisasi terhadap alam. Tentu saja, modernitas “yang bebas” nilai ini menguntungkan industri industri raksasa, dan yang pasti menggusur dan merugikan kaum buruh, petani, negara dunia ketiga dan ekosistem. Inilah mengapa Karl Poper (1902-1994) berteriak keras bahwa nalar pengetahuan sains nyatanya bukan sebuah ruang yang obyektif dan bebas nilai. Dalam bukunya The Open Society and Its Enemies. Meski dia kesulitan untuk menghadirkannya secara ilmiyah namun setidaknya dia menjadi pendahulu Capra dalam menelangjangi kebobrokan modernitas.
Selama berabad-abad dunia pengetahuan sejak jaman pencerahan (Renaisance) seakan tidak bisa melepaskan paradigma Cartesian yang mekanistis, reduksionistis, menjaga jarak terhadap realitas, dan anti metafisik. Padahal Realitas dunia ini dibangun oleh yang fisik dan metafisik. Memisahkan metafisik dari dari manusia menyebabkan manusia kehilangan identitasnya, karena dia tidak lebih dari seonggok perkakas rumah tangga. Padahal Capra mungkin hendak berkata “Sains tidak butuh metafisik, metafisik tidak butuh sains, namun manusia butuh keduanya”.
Memang sains bukan ruang yang bisa sembarangan ‘digugat’ secara logika falsifikasi (dengan menunjukkann kesalahan ilmiah). Capra sebenarnya tidak sendirian. Banyak pemikir yang seide dengannya baik yang berbasis sains, sosial, agama maupun gerakan gerakan perlawanao. Dalam konteks sains mulai dikenal paradigma baru yang disebut teknokultur. Jika sebelumnya teknolagi dipandang sebagai sebuah produkt sain yang obyektif, mekanik, dan bebas nilai, maka pendekatan teknokultur menempatkan teknologi sebagai bagian “yang hidup” dari kebudayaan manusia. Karenanya, teknologi bukannya tidak bebas nilai, akan tetapi teknologi harus berpihak kepada kemaslahatan manusia. Perspektif yang kira-kira kayak beginilah yang dikemnbngakn di kelompok STTS (Sains, Teknologi, And Society Studies) yang muncul pada tahun 1960¬an.” Dalam konteks gerakan intelektual kita mendengar apa yang disebut dengan gerakan postmodernisme dan postkolonialisme yang sama sama tidak menginginkan ada penindasan dalam bentuk apapun.
RUJUKAN TAMBAHAN
Buku :
Capra, Fritjof, The Hidden Connection : Stategi Sistemik Melawan Kapitazlisrrae Baru, Jalasutra, 2004
Hunnex, Milton D, Peta Filsafat : Pendekatan Kronologis dan Tematis, Teraju, Jakarta, 2004
Sardar, Ziaudin dan Van Loan, Borm, Cultural Studies For Beginner, Mizan, Bandung, 2001
Smith, Linda, Ide-Ide Filsafat Dahulu dan Sekarang, Canisius, Yogyakarta, 2004
Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum : Akal Dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, Rosda, Bandung, 2003
Internet :
Aridus, Menanti Murka Alam, 2005, http://www.balipost.co.id
Avadhuta, Acarya Cidananda, Kiirtan dan Fisika Modern, 2006, http://www.anandamarga.co.id
Makalah :
Riansya, L, Sains Dan Gerakan Sosial, 2007

