SKIZOANALISIS: MEMBACA ULANG [melampaui] MODERNISME
Jul 22nd, 2008 | By PUSPeK Averroes | Category: REVIEW BUKUOleh; Audifax
Penulis buku ?Mite Harry Potter? (2005) dan ?Imagining Lara Croft? (2006)
Dalam khasanah psikologi klinis mainstream, skizofrenia adalah salah salah satu
bentuk gangguan jiwa. Skizofren merupakan penggambaran orang yang secara psikis
tak memiliki batas-batas antara dunia yang memang nyata dan dunia (dianggap)
yang tak nyata. Namun, di mata Gilles Deleuze dan Felix Guattari, Skizo justru
ditempatkan sebagai sesuatu yang bisa dijadikan pelajaran penting bagi
orang-orang yang selama ini menganggap dirinya normal.Bagi Deleuze dan Guattari, kenormalan adalah sesuatu yang dipaksakan di bawah
suatu ancaman hukuman. Mereka yang di luar kenormalan akan diasingkan oleh
kultur di mana seseorang tinggal. Dalam pengasingan itu, akan terkandung
hukuman dalam berbagai kemungkinan bentuknya. Kenormalan dengan demikian
merupakan sesuatu yang secara khas dekat dengan apa yang dijelaskan oleh
Sigmund Freud dalam konsep psikoanalisanya. Manusia di-oedipalisasi melalui
ancaman kastrasi bagi mereka yang ?berani? keluar dari batas-batas normal. Pada
titik inilah Deleuze dan Guattari menghadirkan Skizoanalisis sebagai antitesis
bagi psikoanalisis. Berkebalikan dengan psikoanalisis, skizoanalisis justru
mengenali batasan-batasan bukan untuk berhenti melainkan untuk melampauinya.
Perlu menjadi catatan tersendiri di sini bahwa melampaui berbeda dengan
melanggar.
BERMULA KATA, BERMULA SEJARAH
Agustinus Hartono, melalui skripsinya yang diterbitkan Jalasutra, mencoba
memaparkan Skizoanalisis, yang merupakan salah satu pemikiran penting dari
kumpulan pemikiran yang ada pada khasanah pemikiran Gilles Deleuze dan Felix
Guattari. Inno, demikian panggilan penulis buku ini, mengawali paparan buku ini
dari proses rasionalisasi yang terjadi dalam sejarah manusia. Proses
rasionalisasi ini ditengarai mendewakan rasio sebagai ukuran normatif yang
menormalkan manusia.
Pada bab awal, penulis tampak mengajak pembaca melalui rute yang menjelaskan
bagaimana rasio diposisikan sebagai akses menuju otentisitas, hingga Friedrich
Nietzche menggeledah rasio dan rasionalisasi serta menemukan hasrat yang
tersembunyi di balik apa yang tampak. Rasio pun berganti bentuk menjadi hasrat,
yaitu Will-to-Power. Pemikiran Nietzche memang bisa dikatakan membuka jalan
bagi banyak filsuf posmodern. Kita bisa menyebut nama-nama: Jacques Lacan,
Michel Foucault, Jacques Derrida, Julia Kristeva, Helene Cixous, Luce Irigaray
dan masih banyak lagi. Deleuze dan Guattari adalah salah dua dari filsuf
posmodern yang jika ditelusuri pemikirannya akan kelihatan bahwa mereka
berhutang pada jalan yang telah diretas Nietzche.
MEMBACA-ULANG MODERNISME ALA DELEUZO-GUATTARIAN
Deleuze dan Guattari adalah duo filsuf yang mempertemukan psikoanalisis dan
filsafat dalam jalur postrukturalisme. Sama seperti Nietzche, Deleuze dan
Guattari menggeledah rasio dengan menghadirkan diskursus hasrat. Bagi Deleuze
dan Guattari, hasrat ada di mana-mana dan tak pernah benar-benar dapat
ditaklukkan kehadirannya pada realitas sosial dan diri. Hasrat tak bisa
direpresi atau dijinakkan oleh ego seperti dalam psikoanalisis freudian.
Filsafat yang diangkat oleh Deleuze dan Guattari adalah filsafat ontologis.
Mereka mencoba mengajak melihat kompleksitas dalam ontologi. ?Ada? merupakan
sesuatu yang univokal. Ide dasar ini memang bukan sesuatu yang baru. Bahkan
Deleuze dan Guattari sendiri mengakui pengaruh Baruch Spinoza dalam filsafat
mereka. Namun, alih-alih mencari hukum representasi realitas yang konsisten,
Deleuze dan Guattari justru menggunakan filsafat Spinoza-Leibniz untuk melawan
konsistensi representasi realitas ala Descartes-Kantian.
Kritik terhadap filsafat Deleuze dan Guattari barangkali sama dengan umumnya
kritik yang dilancarkan penganut aliran filsafat modern bagi pemikiran
posmodern. Penganut filsafat modern melihat bahwa pemikiran posmodern tidak
menambahkan apa-apa yang baru pada filsafat itu sendiri. Para filsuf posmodern
dianggap genit dengan metafor dan permainan istilah/kata namun tidak
menghadirkan sesuatu yang mampu merubah dunia. Kritik seperti inipun bisa
dengan mudah ditujukan pada Deleuze dan Guattari.
Kendati demikian, kritik seperti itupun bukannya terbebas begitu saja dari
pandangan kritis terhadap kritik itu sendiri. Dalam hal ini kritik penganut
filsafat modern memiliki celah ketika mereka mengabaikan bahwa posmodern memang
bukan bertujuan untuk menambahkan sesuatu yang baru ataupun merubah dunia. Apa
yang dilakukan para filsuf posmodern justru adalah membaca ulang segala bentuk
progres modernisasi, termasuk kritik-kritik dalam cara berpikir modern. Kritik
yang tak boleh diimunisasi dari kritik justru adalah kritik yang bekerja di
bawah paradigma bahwa realitas belum optimal sehingga harus selalu ditambah
dengan yang baru ataupun dirubah. Pembacaan ulang seperti inilah yang justru
menjadi penting ketimbang terseret untuk menghasilkan sesuatu yang baru atau
berpretensi merubah dunia, karena apa yang penting di sini justru terletak pada
kenyataan bahwa banyak orang bahkan sudah tak mempersoalkan lagi kenapa
realitas selalu (harus) dipandang sebagai sesuatu yang belum
optimal.
Skizoanalisis adalah salah satu bentuk pembacaan dari banyak cara pembacaan
yang dikedepankan oleh para pemikir posmodern. Skizoanalisis melihat bahwa cara
berpikir modern yang bekerja di bawah paradigma realita yang belum optimal,
ternyata bekerja berdasar ancaman kastrasi ala psikoanalisis freudian.
Orang-orang yang terlempar dari apa yang dilabel modern, ternyata berpotensi
mengalami kastrasi dari kultur tempat modernitas itu eksis. Di sinilah lantas
pembacaan dengan skizoanalisis menjadi penting. Batas-batas modern dan tidak
modern itu sendiri harus dibaca ulang sehingga tak membatasi esensi
kemanusiaan. Pembacaan ulang inilah yang memungkinkan siapapun untuk melampaui
tanpa harus melanggar batas-batas tersebut.
POSKRIP
Buku pengantar memahami skizoanalisis yang disusun oleh Inno ini, merupakan
salah satu sarana yang akan membantu mereka yang berminat mendalami lebih jauh
pemikiran Deleuze dan Guattari. Meski buku ini terkesan reduktif karena hanya
sekelumit dari rimba pemikiran Deleuze dan Guattari, namun buku ini bisa
menjadi pintu masuk penting agar pembaca tak tersesat jika ingin memasuki rimba
pemikiran Deleuze dan Guattari yang seringkali menyesatkan dan penuh jebakan
yang bakal menjerat seseorang untuk terseret pada paradigma benar-salah,
sesuatu yang justru ingin dilampaui oleh pemikir postrukturalis.
Bagi peminat psikoanalisis, buku ini juga cukup membantu untuk membuka
cakrawala perkembangan psikoanalisis. Psikoanalisis umumnya masih berkutat pada
hal-hal yang sifatnya afirmasi terhadap teori freudian, pada titik inilah
Deleuze dan Guattari hadir berbeda. Meski berangkat dari titik yang sama, yaitu
psikoanalisis Sigmund Freud, namun Deleuze dan Guattari justru membalik
paradigma yang selama ini dikembangkan oleh para freudian dengan menghadirkan
skizoanalisis. Bagi khasanah buku psikoanalisis di Indonesia, buku ini
merupakan pembuka bagi pengembangan pemahaman akan psikoanalisis.
Bagi anda yang berminat mendiskusikan esei ini, saya mengundang anda bergabung
mendiskusikannya di milis Psikologi Transformatif
Bagi mereka yang ingin bergabung dengan milis Psikologi Transformatif, ketik:
www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif
