Wardiono: Konsisten Mengawal Tradisi Tengger

Jun 20th, 2008 | By PUSPeK Averroes | Category: BINCANG BUDAYA

Untuk ukuran pamong desa, Pak Wardiono tergolong luar biasa. Bagaimana tidak, ia dipercaya oleh masyarakat menjadi ketua rukun tetangga (RT) selama 25 tahun semenjak tahun 1979 hingga 2004. Padahal, ketua RT lain tidak pernah mengemban jabatan selama itu. Bahkan pada tahun 2000, di samping sebagai ketua RT, kepercayaan warga pun berlanjut dengan dipilihnya Pak Wardiono menjadi kamituwa (kepala dusun). 

Pak Wardi, begitu penduduk biasa memanggil, memang orang baik. Di mata masyarakat, ia dikenal sebagai pamong yang betul-betul ikhlas mengemban amanat jabatannya. Warga Desa Ngadas Kidul Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang ini sadar betul apa arti jabatan yang disandangnya. Meski hanya seorang kamituwa, namun posisinya cukup strategis dalam struktur pemerintahan desa.

Kartono, Kepala Desa Ngadas Kidul, tak jarang meminta pertimbangannya mengenai problem-problem kemasyarakatan, bahkan sampai pada pengambilan keputusan desa. Kebetulan Kartono sendiri masih terbilang keponakan Pak Wardiono. Padahal Kartono beragama Islam, sedangkan dirinya adalah penganut Budo Tengger tulen. Diakui, ia memang hidup dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga besar yang demokratis, bahkan sampai pada urusan keyakinan. Misalnya, kakak perempuannya yang bernama Warni menganut agama Hindu.

Di Desa Ngadas Kidul memang cukup banyak keluarga yang memiliki keberagaman dalam hal keyakinan keberagamaannya, termasuk Wardiono. Namun, sesungguhnya ia agak menyesal dengan situasi dan kondisi desa dalam hal kebebasan memeluk keyakinan secara administratif. Hal ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pemerintah era Soeharto yang menetapkan sekaligus hanya mengakui lima agama, yakni Islam, Hindu, Kristen Protestan, Kristen Katholik, dan Budha. Sementara di Ngadas Kidul, pada saat itu hampir seluruh masyarakatnya beragama Budo Jowo atau yang lebih dikenal Budo Tengger. Budo Tengger bukanlah Budha versi pemerintah yang mempunyai banyak sekte tersebut.

Pernah sekitar tahun 1980-an ketika hendak mengurus akta kelahiran anak keduanya, Pak Wardiono dihadapkan dengan benturan keyakinan agama yang dianutnya. Menurut aturan administratif desa, Budo Tengger tidak terkategori dalam kelima agama yang diakui pemerintah. Untuk bisa mendapatkan akte kelahiran anaknya, syarat-syarat yang harus dipenuhi, di antaranya adalah tanda bukti akta perkawinan, sementara pada saat itu Wardiono belum memilikinya.

Warga sendiri kebanyakan juga belum memegang akte perkawinan. Wardiono akhirnya segera mengurus akte perkawinannya. Tetapi ia dihadapkan pada pilihan lima agama. Oleh perangkat desa, ia “dipaksa” masuk agama Hindu, dengan pertimbangan agama inilah yang sedikit banyak masih merepresentasikan Budo Tengger. Maka, mau tidak mau dalam akte perkawinannya tertulis dirinya penganut agama Hindu. KTP-nya bahkan sampai sekarang juga tertulis agama yang sama.

Walau demikian, dalam batinnya ia masih tetap tidak sepakat dengan anggapan dan ketentuan tersebut. Ia yakin Budo Tengger adalah adat, tradisi, dan ritual turun-temurun yang tidak bisa disamakan dengan ritual agama Hindu. Sementara ketentuan penyebutan Hindu dalam KTP-nya juga ditentang secara bathiniah, tidak pernah dibincangkan dengan masyarakat lain. Pak Wardiono berasalan ini demi menoleransi tujuan kerukunan dan keguyuban desa. “Kados pundi mawon, kulo tetep mboten remen gegeran kale tiang, lebih-lebih ngributaken perkawis agomo” (bagaimana pun juga, saya tetap tidak senang berkelahi dengan orang lain, apalagi meributkan persoala agama), tegasnya menanggapi dalam bahasa Jawa halus (krama inggil).  

Yang pasti, dirinya masih memegang teguh pesan yang pernah diucapkan kakeknya. “Wes, koen ojok macem-macem nyoba’ ajaran liyane. Mung Budo Tengger seng paling cocok karo awakmu lan sak anak turunmu. Sebab, leluhurmu ndisik yo keyakinane iku” (Sudahlah, kamu jangan macam-macam pindah ke ajaran [agama] yang lain. Hanya Budo Tenggerlah ajaran yang paling cocok dengan dirimu sampai anak cucumu. Sebab, leluhurmu dulu keyakinannya juga itu [Budo Tengger], ucap kakeknya pada Wardiono di suatu hari. Wardiono sendiri di samping patuh pada pesan kakeknya, juga meresapi dan menyelami sendiri kebenaran keyakinan yang dianutnya.

Kebenaran atas keyakinannya tersebut dibuktikan dengan kemampuannya menjelaskan asal usul sejarah desa dengan keberadaan Budo Tengger. Dahulu masyarakat Ngadas belumlah mengenal banyak agama dan tempat ibadah seperti sekarang. Dengan melaksanakan ajaran Budo Tengger, warga merasa kehidupan  kesehariannya selalu membawa berkah, termasuk bagi Wardiono. Itulah mengapa di desanya saat ini ia dikenal sebagai pemeluk Budo Tengger yang paling taat.

Desa Ngadas Kidul yang dapat dikatakan satu-satunya kawasan Tengger di Kabupaten Malang ini, penduduknya memang meyakini bermacam-macam agama. Namun mereka tidak meninggalkan ritual adat ketenggeran, karena hanya tradisi itulah yang menjadi ritual pengikat kebersamaan warga Ngadas Kidul sehingga bisa tetap rukun dalam kesehariannya.

Ia hanya kecewa dengan beralihfungsinya sanggar di sebelah utara desa yang sekarang berubah menjadi vihara. Di bekas sanggar tersebut, nampak dibangun beberapa stupa di atas pagar vihara. Ada pula beberapa patung di bagian dalam sanggar yang menunjukkan bangunan itu adalah tempat ibadah orang Budha Sidharta Gautama. Memang tidak terdapat patung Sidharta, tapi jelas bangunan yang awalnya sanggar tempat ritual orang Budo Tengger tersebut hanya dipergunakan oleh warga beragama Budha saja. Padahal sanggar atau bangunan tersebut sebenarnya adalah aset seluruh masyarakat Ngadas Kidul.

“Wong Gusti Ingkang Moho Kuwaos niku mboten ketingal kok, lha ten mriku kok malah wonten patunge. Niku mboten cecek kale rituale tiang Budo Tengger” (Tuhan Yang Maha Kuasa itu tidak kelihatan kok, lha di situ [bekas sanggar] kok malah ada patungnya. Itu tidak cocok dengan ritualnya orang Budo Tengger), ujarnya menanggapi keberadaan vihara di desanya. Wardiono pun tidak mau lagi memuja dan bersembahyang di vihara tersebut, karena ia yakin betul Budo Tengger beda dengan agama Budha. Maka tempat ritualnya pun bukanlah di vihara.  

Hal ini berawal dari bantuan uang 10 juta dari Perwalian Umat Budha Indonesia (Walubi) yang dipasrahkan kepadanya oleh masyarakat. Ia kemudian menyimpan uang tersebut di Bank BRI biar aman. Oleh Ngatono, pemuka tokoh Budha di Ngadas, uang tersebut diminta dengan alasan buat memperbaiki sanggar. Karena Ngatono berkali-kali berjanji uang tersebut benar-benar akan dipergunakan untuk kepentingan perbaikan sanggar masyarakat Ngadas, akhirnya Wardiono menyerahkannya. Tidak dinyana ternyata uang tersebut dipergunakan untuk mengubah sanggar menjadi bangunan vihara, yang tentu saja tidak merepresentasikan tempat ritual bagi keseluruhan warga. Wardiono pun pada saat itu menjadi tempat sasaran ejekan dan bulan-bulanan warga desa.

Ia memang pernah memprotes dalam sebuah rapat pertemuan yang membahas soal itu. Dijelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya. Itulah mengapa tidak seluruh warga yang kontra dengan tindakan Wardiono. Ada segelintir orang yang menyadari posisinya saat itu. Wardiono sendiri tetap sabar. Namun sejak saat itu, Wardiono menjadi lebih waspada dengan ulah orang-orang oportunis di desanya. Ia tetap bekerja dan menjalankan amanat desa seperti biasanya.

Dalam setiap rapat desa, Pak Wardiono tidak pernah absen meski dirinya tidak selalu memimpin rapat. Ia juga selalu mengikuti kerja bakti di desa. Ia pula yang menjadi curahan hati para warga bila ada masalah.

Selama menjadi kamituwa, ada satu hal yang paling membuatnya merasa kesulitan megurus persoalan warganya, yakni permasalahan hutang. Wardiono paling jengkel bila ada warga yang curhat mengenai hutang-hutangnya di bank. Memang benar warga berhutang untuk memodali lahan perkebunannya, tapi mereka kurang menyadari apa dan bagaimana yang terjadi bila sudah kesulitan membayar, apalagi di bank. Wardiono bukanlah orang pertama dari perangkat desa yang dituju warga mengenai masalah ini. Sebelumnya ketua RT juga sudah disambati warga, namun seringkali mereka kurang mampu menyelesaikan permasalahan warga yang satu ini. Mau tidak mau kamituwa-lah yang menjadi tempat mengeluh warga selanjutnya.

Pria berusia 56 tahun ini benar-benar berhati-hati mengurus urusan warga yang satu ini. Sebab, keluarganya, yakni ibunya pernah mempunyai pengalaman hutang ke bank dan kesulitan pula mengembalikannya. Malah ia harus membohongi ibunya sendiri dengan mengatakan utang sudah dilunasi. Padahal, kejujuran adalah pesan pokok dari orang tua dan kakeknya yang tidak boleh dilanggar. Bagi Wardiono, ia hanya akan berbohong kalau memang demi untuk kebaikan.

Uang pelunasan hutang ibunya diperoleh dari menjual sapi ternaknya. Di samping sebagai seorang petani, dulunya Wardiono memang juga beternak sapi, namun sekarang ternaknya tinggal empat ekor ayam, dan dua ekor babi. Itupun digunakan sebagai persediaan pengorbanan kalau ada perayaan kasada dan karo.      

Belajar Agama 
Wardiono kecil tidak diajarkan pelajaran agama di sekolah, namun diajarkan oleh kakeknya sendiri yang bernama Asmakerto. Kakeknya yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Ngadas kali pertama memang dikenal penganut Budo Tengger sejati. Bahkan makamnya saat ini disandingkan dengan makam Mbah Sedek, orang yang dianggap mbabat alas di Ngadas Kidul.  

Wardiono mulai tekun belajar ilmu agama sesuai adat dan tradisi ketenggeran semenjak lulus SD. Ketika kakeknya meninggal dunia, ia pun belajar kepada guru agama di desanya yang bernama Asmoyo. Pelajaran yang diterimanya seputar ketaatan kepada kepada ritual Tengger, seperti bermacam-macam mantra, pujan yang dilantunkan setiap malam di sanggar, dan seterusnya.

Wardiono bahkan memiliki beberapa kitab mantra yang biasa dimiliki para dukun. Namun ia mengaku tidak berkeinginan menjadi seorang dukun karena merasa sudah cukup menjadi seorang penganut Budo Tengger biasa, seperti kebanyakan warga lain. Ia hanya akan mewariskan kitab-kitab tersebut bila anak cucunya nanti ada yang berkehendak mempelajarinya dan ingin menjadi dukun. 

Beliau merupakan angkatan pertama di SD Ngadas I yang masih berdiri tegak hingga sekarang. Masih diingatnya kawan-kawan seangkatannya dulu yang sekarang sudah banyak yang menjadi tenaga pengajar di SD tersebut. Hebatnya, semenjak di bangku sekolah Wardiono sudah belajar bekerja di ladang. Sepulang sekolah ia selalu pergi ke kebun melihat bagaimana cara menanam kubis dan kentang yang baik. Akhirnya ia pun ikut membantu orang tuanya bekerja, melakukan pembibitan tanaman sendiri, dan mengangkut hasil panen ke rumah.

Bisa dibayangkan kondisi geografis pertanian Desa Ngadas Kidul yang sangat curam, sementara hasil panen harus diusung ke atas. Pertanian warga memang dibuat terasering sesuai kondisi tanahnya. Tidak heran pemandangan Desa Ngadas Kidul sungguh sangat eksotik karena berada di wilayah bukit dan pegunungan. Dari belakang rumahnya, Wardiono bisa melihat secara langsung keindahan Gunung Mahameru dan Gunung Semeru di pagi hari yang cerah. Gunung Semeru bahkan tidak henti-hentinya mengeluarkan kabut tebal dari dalam kawahnya. Sungguh anugerah Tuhan. 

Sejak kecil Wardiono juga diajari orang tua agar tidak sekali-kali mencuri atau mengambil barang milik orang lain, walaupun nilainya kecil. “Ibaratipun benik roto dipendet, ingkang mendet malah kaicalan barang ingkang luwih ageng. Pesen niki pun wonten buktine” (ibaratnya kancing baju terjatuh kemudian diambil, maka orang yang mengambil malah akan kehilangan barang yang lebih besar. Pesan ini sudah ada buktinya). Begitulah penuturan seperti yang pernah diwanti-wanti oleh orang tuanya.

Wardiono adalah orang yang bernampilan kalem, bersahaja, ramah, dan pekerja keras. Di rumahnya, kalau sedang menganggur karena tidak ada pekerjaan di ladang atau urusan desa, ia selalu berusaha melakukan apa saja untuk dikerjakan. Ia misalnya tidak segan-segan memasak dan membuat kopi sendiri. Wardiono jarang tidur siang. Dalam sehari rata-rata ia tidur sekitar 4-5 jam. Aktivitas kesehariannya bisa dibilang cukup padat. Pada malam hari saja, ia selalu bersemedi (sembahyang) tepat pada pukul 24.00. Ritual yang menurut pengakuannya merupakan tradisi leluhur tersebut hampir tidak pernah ditinggalkannya, kecuali kalau sedang sakit.

Semedinya relatif singkat, sekitar seperempat sampai setengah jam. Ia melakukannya di luar rumah (alam terbuka) agar bisa langsung berhadapan dengan langit. Ini simbol agar mantra yang diucapkan benar-benar langsung tersampaikan kepada Yang Kuasa.  Tak jarang ada banyak hal ya ng menganggu konsentrasi semedinya, entah ada kucing lewat, suara-suara aneh, atau hembusan angin yang kencang. Tapi ia selalu mampu meneguhkan ketenangan batinnya pada saat merapal mantra, sehingga benar-benar fokus pada yang dituju.

Mantra dalam semedinya bukanlah mantra seperti halnya yang diucapkan dalam ritual kasada, karo, dan lain-lain, tapi sekadar mantra penyuwunan (permintaan). Begitulah Wardiono menyebutnya. Ia bermeditasi setiap hari semata-mata meminta agar Sang Hyang Widhi dan roh para leluhur senantiasa memberikan keselamatan, kesejahteraan, kebahagiaan, seger waras (kesehatan), kemakmuran, dan rizki yang melimpah.

“Tujuane tiang gesang mung niku. Mboten wonten maleh. Kulo semedi kangge madep lan nyuwun kententeraman keluarga kale keselametane anak putu mawon” (Tujuan orang hidup hanya itu. Tidak ada lagi. Saya semedi untuk menghadap dan meminta ketenteraman keluarga serta keselamatannya anak cucu saja), tegas Wardiono.    

Benar apa yang dikatakan pria dengan dua anak ini. Barangkali itu pula yang membuat warga desa mempercayainya menyandang jabatan kamituwa. Padahal, ia tidak pernah sekalipun memintanya. Warga sendiri yang mendatangi rumahnya ketika proses pemilihan kamituwa digelar. Betapa sulit kita mencari orang yang tidak neko-neko dalam hidupnya seperti sosok Wardiono di zaman sekarang. (Yazid)
Sumber : Doc. Puspek Averroes

del.icio.us Digg Facebook Technorati Google StumbleUpon Yahoo

Tags: , ,

One comment
Leave a comment »

  1. Komentar dulu ahhhh

Leave Comment