Ajakan Refleksi untuk Mahasiswa Sains

Apr 27th, 2008 | By PUSPeK Averroes | Category: OPINI PILIHAN

Oleh : L. Riansyah

Membincang sains dan peradaban tidak akan lepas dengan refleksi historis bagaimana ilmu sains (pengetahuan alam) dalam sejarahnya selalu diwarnai dengan pergaulatan ideologis. Kita mungkin ingat bagaimana Nicolas Copernicus dan Galileo harus berhadapan gerbang maut kerena mempertahankan prinsip yang diyakini. Mereka kekeh mempertahankan argumentasi bahwa “kebenaran” pengetahuan memang harus dibangun dari tradisi pengetahuan ilmiah bukan dirujuk dari dogmatisme gereja. Dengan menerawang sejarah kita bisa melacak bagaimana para saintist secara radikal mau tidak mau harus bergesekan dengan dogmatisme agama, filsafat dan tradisi yang bertentangan dengan spirit pengetahuan.

Selain bersinggungan dengan dogmatisme agama, kita juga sering menjumpai pertikaian kecil antara ilmuwan social dan ilmuwan eksact yang sama-sama memperebutkan obyektivitas pengetahuan dan representasi atas realitas. Bahkan dua kutub pengetahuan ini tak jarang mempersoalkan perkara remeh semisal perebutan istilah populer yang masing-masing ngotot untuk mem-patenkan maknanya, seperti diksi determinan, dimensi, anomali, dan masih banyak lagi. Dalam tradisi penelitian dua kutub ini saling berebut perspektifnya masing masing antara pendekatan saintifik dan pendekatan sosiologis dalam mempresentasikan fenomena social. Padahal, menjadi pemikir dan ilmuwan sains tidak harus mengambil catarsis yang menjaga jarak terhadap pengetahuan lain apalagi menjauh dari problem kemanusiaan. Eksact non eksact bukan klasifikasi yang akan menjebakkan diri kita ke dalam ke-pandir-ian yang menghambat untuk menggeluti pengetahuan yang maha luas. Tentu saja ilmuwan pandir dan picik tidak akan mampu mengaktualisasikan ilmunya untuk menjawab permasalahan kemanusiaaan dan tantangan zaman.

Filsafat barat jauh hari telah banyak melakukan eksperimentasi dan pelacakan terhadap apa itu realitas. Sory, di sini penulis tidak hendak membawa terlalu jauh dalam pergaulatan filsafat yang mbulet akan tetapi tujuan menyinggung retakan sejarah filsafat barat dalam tulisan ini adalah untuk melihat bagaimana dinamika ilmu pengetahuan begitu liar dan luar biasa ketika dikembangkan dengan tradisi intelektual kritis. Kita mungkin banyak mengenal tokoh ilmu matematika dan fisika yang nyata-nyata sangat fasih dalam membincang filsafat sosial. Kita cukup kenal dengan Rene Descartes, Matematikawan  Prancis yang merupakan peletak awal filsafat Modern. Konon semboyan cogito orgo sum-nya Descartes adalah buah kontemplasi ketika dia menyusun metode eliminasi persamaan linier. Demikian juga dengan Al Kindi, matematikawan yang banyak mengembangkan filsafat bersamaan dengan Ilmu Matematika. Seperti yang dikutip Hamdi (2004 : 47) Al Kindi sempat berujar bahwa orang tidak akan bisa berfilsafat sebelum belajar Matematika.

Para sainstis-filosof ini telah memberikan kontribusi besar dalam khazanah filsafat pengetahuan. Setelah Filsafat Modern mengemuka dalam peradaban barat,  pendekatan ilmiah yang memberikan topangan logis dalam pengembangan pengetahuan. Sains kemudian hadir untuk memberikan penjelasan epistemologis bahwa realitas di dunia ini dibentuk secara ilmiah-rasional yang disusun atas jutaan atom-atom. Dalam peta filsafat barat, paradigma ini dikenal dengan aliran atomisme materialistic. Leocippus dan Demokristus diantara tokoh aliran ini. Mereka menyatakan bahwa realitas disusun atom-atom yang kekal tidak bisa dihancurkan. Semua hal yang ada di alam ini dan yang bisa diindera tersusun oleh jutaan bahkan milyaran atom-atom dengan karakteristik yang beragam. Filsafat ini kemudian dikembangkan oleh Galileo (1564-1641), Boyle, dan ilmuwan lain yang yang membangun madzhab materialisme ilmiah.   

Eropa dengan hadirnya barisan ilmuwan sains telah bangkit menuju zaman pencerahan (renaisance). Sebuah fase dimana tradisi tahayul dan dogmatisme agama tergusur oleh spirit ilmiah modern. Sejak Renaisance ini kaum rasionalis seperi Rene Descartes (1596-1650) dan filosof empiris seperti John Locke (1632-1704), David Hume wa ‘alaa aalihi washoh bihi ajma’in senantiasa menekankan nalar rasionalitas logis dalam mempertanggungjawabkan teori ilmiahnya (Lubis, 2006 : 31). Disamping itu prinsip mendasar dari perkembangan pengetahuan pasca renaissance adalah “mencoret“ aspek metafisika dalam tradisi pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus berpijak sepenuhnya kepada aktivitas eksperimentasi dalam pengamatan fisis dan inderawi (Lubis, 2006 : 53)

Revolusi pengetahuan dan sains untuk melepaskan diri dari dogmtisme dan konservatisme teologis bukannya tanpa pengorbanan. Rezim agama dan otoritas gereja yang pada masa itu sangat pe-de bisa menjawab semua problem peradaban manusia cukup merasa terganggu dengan gerakan pengetahuan yang merongrong otoritas gereja sebagai sumber legitimasi pengetahuan. Hal membuat para ilmuwan kita harus menjalani hidup dengan berdarah-darah. Dalam konteks ini kita juga akan ingat bagaimana dalam sejarah Peradaban Islam, para filosof juga harus mengalami ‘penghakiman’ ketika menawarkan berbagai konsep pengetahuan karena dianggap melenceng dari pemahaman Islam. Seperti Ibn Ruyd (1126-1198), pengarang kitab Kulliyat Fi Ath Thib, harus diasingkan ke Lucenia oleh Amir Al Mansoer karena dianggap memiliki pemikiran filsafat yang menyesatkan. Bahkan di Eropa, kaum agamawan Kristen menganggapnya gembong atheis. Demikian juga dengan filosof muslim Ar Razi (864-925 M). Dia pernah dicap kafir gara-gara melakukan kritik terhadap penggunaan metode non-rasional dalam melakukan tafsir atas wahyu (Hamdi, 2004 : 62).

Secara positivistic, ilmu eksact memang dianggap memiliki progress yang menggerakkan ‘pencerahan dunia‘. Perkembangan pengetahuan dan teknologi telah menengadahkan wajah peradaban manusia. Revolusi industri (1769) yang diawali dengan mesin uapnya Jammes Watt telah menciptakan ribuan pabrik di Eropa. Perkembangan teknologi dan sains secara gila-gilaan telah menempatkan ilmu eksact menjadi prioritas dan penguasa peradaban.

Paradigma Filsafat dan Sosial pada akhirnya juga harus takluk dibawah kekuatan sains. Kehadiran August Comte (1797-1857) telah melahirkan apa yang disebut sebagai fisika social yang belakangan lebih sering disebut sosiologi. Fisika Sosial Comte adalah sebuah kesombongan ilmu eksact untuk mempengaruhi cara ilmu non-eksact dalam melihat, mendifinisikan dan menjawab persoalan social. Dalam sosiologi, berbagai pendekatan ilmiah, metode analitik, dan riset diharuskan untuk melibatkan perangkat-perangkat sentifict. Karena tuntutan rezim positifistik telah mensyaratkan bahwa pengetahuan tidak hanya harus logis dan empiris tetapi juga harus obyektif, terukur dan mengikuti kaidah-kaidah metode ilmiah seperti lazimnya produk pengetahuan dan ilmu-ilmu eksact.

Tidak hanya itu, matematika fondasi ilmu eksact dalam memotret fenomena alam juga secara ekpansif merasuk dalam kajian ilmu social sehingga lahirlah ansos dan metode riset social. Istilah “rekayasa sosial” dalam menyusun kebijakan maupun gerakan social juga lahir dari tradisi saintifik, yakni rekayasa genetika dalam ilmu biologi.

Ilmu eksact tidak hanya mampu menghadirkan pengetahuan yang pasti dan teknologi yang teruji, akan tetapijugamenyediakan ”ruang” untuk segala ketidak pastian dan ramalan-ramalan kosmologis. Dalam riset sosial misalnya, statistika menyediakan perhitunhgan sekian persen yang disebut deviasi untuk menampung data yang nyleneh dari data umum.

Pemodelan matematika juga menyediakan apa yang dinamakan galat (error/kesalahan) untuk menampung selish antara hampiran matematis (metode numerik) dengan realitas sebenarnya yang dimodelkan secara matematis. Dimana sering kita tahu persamaan umumnya adalah sebagai berikut: nilai sejati = Et+galat , dimana  Etperhitungan denagn pendekatan metode numeric. Betapa semua hal yang tidak bisa diukur dengan angka-angka mampu dimodelkan secara matematis dengan pendekatan sanitifik.

 

Dalam dunia fisikapun kita mendengar teori relativitas Einstein. Bahwa semua rumus fisika yang bersifat apriori ternyata bersifat relatif tergantung dimensi ruang dan waktu dimana rumus itu diterapkan. Kita juga sering dihebohkan oleh prediksi-prediksi dari Stepen Hawking, Begawan matematika dan fisika akan perhitungan-perhitungan tentang masa depan yang sebelumnya kita anggap sebagai kajian metafisis. Ataupun kehabatan Firchof Chapra yang mampu menjelaskan bagaimana jalinan alam semesta ini bisa saling sengkarut dengan berbagai keterkaitan jaring-jarng kehidupan. Pada titik ini nampaknya, para ilmu eksact masih cukup kuat posisinya dalam peta pengetahuan dan peradaban dunia. Karena setiap kritik epistemologis maupun metodologis pada disiplin ilmu sains tidak membuatnya tenggelam, malah sebaliknya akan menyempurnakan eksistensinya.

Kokohnya paradigma saintifik dalam rezim pengetahuan dunia cukup membuat gerah beberapa kritikus pengetahuan. Mereka menggugat obyektifitas dan menolak anggapan bahwa ilmu pngetahuan bersifat  bebas nilai”. Kritik terhadap perkembangan teknologi yang menimbulkan dampak kemanusiaan seperti marginalisasi kaum buruh, terciptanya budaya konsumerisme, hancurnya ekosistem hayati, global warming dan perselingkuhan sains dan kapitalisme mengemuk dan menjadi suara-suara sumbang yang sering muncul di ruang public.

Memang sains bukan ruang yang bisa sembarangan “digugat“. Meski Karl Poper (1902-1994) mampu menggugat bahwa nalar pengetahuan sains nyatanya bukan sebuah ruang yang obyektif dan bebas nilai seperti yang diulas dalam bukunya the open society and its enemies, namun dia kesulitan untuk melakukan gugatan pada aspek kesalahan ilmiah.

Kritik pengembangan teknologi mulai mngemuka. Ilmu pengetahunma dan pengembangan  teknologi dituntut untuk melibatkan moralitas, semangat kemanusiaan, dan ramah terhadap alam.  Pada gerakan pengetahuan selanjutnya mulai dikenal paradigam baru yang disebut sebagai teknokultur. Jika sebelumnya teknologi dipandang sebagai sebuah produk sains yang obyektif, mekanik, dan bebas nilai, maka pendekatan teknokultur menempatkan teknologi sebagai bagian “ yang hidup “ dari kebudayaan manusia. Karenanya, teknologi bukannya tidak bebas nilai, akan tetapi teknologi harus berpihak kepada kemaslahatan manusia. Perspektif yang kira-kira kayak beginilah yang dikembangkan dikelompok STTS (Sans, Teknologi, And  Society Studies) ynag muncul pada tahun 1970-an (Sardar, Bandung, 2001 : 100-101).

Begitu dekatnya sains dan teknologi dengan kebudayaan dan kemanusiaan menjadi cukup alasan bagi pengkaji ilmu sains untuk tidak menjaga jarak terhadap problem kebudayaan dan problem sosial. Dari sini kita bisa mengambil ketauladanan dari Albert Einstein penemu rumus  E=mc2. Kehebatan pengetahuan yang dimiliki oleh Einstein rupanya juga diimbangi dengan perhatiannya  terhadap problem kemanusiaan. Meski penemuan nuklir sangat diinspirasikan oleh teori-nya, namun Einstein menjadi ilmuwan yang keras menentang ketika sebuah produk sain dan teknologi hanya dijadikan sebagai alat pembunuh manusia seperti pengguna Bom Nuklir di Hiroshima dan Nagasaki pada saat PD II. Einstein adalah seorang ilmuwan yang gigih dalam melawan tirani, dengan beberapa kawan dia juga aktif dalam gerakan persaudaraan yahudi dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaan. Selain Einstein kita juga mengenal Capra, fisikawan yang luar biasa cerdas melakukan penelanjangan terhadap kebobrokan kapitalisme dan industrilaisasi dengan pendekatan filsafat sains.

Pengetahuan yang kita miliki apapun itu, apakah fisika, matematika, biologi, statistic ataupun pengetahuan yang kita dapat dari luar kampus dan disiplin ilmu itu hendaknya tidak berhenti kepada kepuasan intelektual semata, akan tetapi lebih dari itu adalah untuk membawa kepada kemanfaatan kepada manusia, lebih khusus lagi kepada mereka yang membutuhkan, mereka yang termaginalilkan, mereka yang butuh sebagian dari apa yang kita miliki. Lebih jahat lagi ketika ilmuwan menjadi pengabdi kepada kekuasaan, mengabdi kepada industri yang memarginalkan bangsa sendiri. Inilah yang sering menjadi paradigma fakultas eksact di Indonesia.

Ketika pemodal sangat membutuhkan “tenaga mekanik” dan “tenaga ahli” dalam menggerakkan roda industrinya maka para sarjana eksact adalah input yang segar bagi tujuan itu. Makanya tak heran ukuarn keberhasilan sebuah fakultas eksact seberapa besar alumininya bis diserap di dunia industri. Makanya  tak heran ketika melihat fenomena mahasiswa eksact yang hanya disibukkan untuk kuliah dan praktikum sehingga melupakan apa sejatinya tugas pokok kita sebagai muta’alim.

Konsepsi ilmu untuk ilmu sudah harus dibuang jauh-jauh. Ilmu harus bisa memberikan kemanfaatan kepada manusia. Apalagi ketika ilmu eksact hanya dijadikan budak oleh industri yang pengabdi kepada penguasa dan pemodal. Kemunculan teknologi informasi yang menempatkan Microsoft sebagai raja dan penguasa software dan hardware dunia harus dilawan ketika memarginalkan masyarakat dunia ketiga. Mahalnya harga software Windows di pasaran dan diregulasinya praktik pembajakan ketika menjadi tirani bagi kaum “miskin” untuk pandai dan mampu menguasai teknologi, HARUS DILAWAN.

Gerakan advokasi buruh yang dilakukan oleh aktifis Pro-Dem sama hebatnya dengan gerakan komunitas programmer yang mampu menghasilkan teknologi tepat guna yang murah dan bisa membuka lapangan kerja. Ketika OS Windows menjadi sangat kapitalistik, sudah saatnya bagi para komunitas IT untuk mempopulerkan OS Linux yang lebih “merakyat”. Ketika sekian program software begitu mahal dan ‘mata duitan’ dengan diregulasinya “hak karya intelektual”, maka sudah saatnya bagi programmer mengkreasi software lokal yang bisa “dimiliki” oleh mereka yang jauh dari kemampuan untuk membeli software mahal.

 

del.icio.us Digg Facebook Technorati Google StumbleUpon Yahoo

One comment
Leave a comment »

  1. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Senin, 16 Juni 2008)

    Strategi Ilmu Sosial Milenium III
    (Kadaluarsa Ilmu: Re-Imagining Sociology)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MULANYA teori baru diserang dikatakan tidak masuk akal. Kemudian teori tersebut itu diakui benar, tetapi dianggap remeh. Akhirnya, ketika teori itu sangat penting, para penentang akan segera mengklaim merekalah yang menemukannya (William James).

    KETIKA Dr Heidi Prozesky – sekretaris South African Sociological Association (SASA) meminta TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000) sebagai materi sesi Higher Education and Science Studies pada Konferensi SASA medio 2008 ini, saya tidak terkejut. Paradigma baru The (R)Evolution of Social Science – The New Paradigm Scientific System of Science ini, memang sudah tersebar pada ribuan ilmuwan pada banyak universitas besar di benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa dan Australia. Pembicaraan dan pengakuan pentingnya penemuan juga hangat dan mengalir dari mana-mana.

    Contoh, dari sekian banyak masalah telah dipecahkan paradigma ini adalah menjawab debat sengit hingga kini keraguan ilmuwan sosial akan cabang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan di berbagai belahan dunia. Tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008 di Australia, dengan tema Re-imagining Sociology. (Judul tema Re-Imagining Sociology, diambil dari judul yang sama buku Steve Fuller (2004), seorang profesor sosiologi dari Universitas Warwick, Inggris).

    Lalu, apa bukti (dan pemecahan re-imagining sociology dalam paradigma TQZ) masalah sosiologi sampai ilmuwan sosial sendiri meragukannya?

    PARADIGMA (ilmu) sosial masih dalam tahap pre-paradigmatik, sebab pengetahuan mengenai manusia tidaklah semudah dalam ilmu alam (Thomas S. Kuhn).

    Ada cara sederhana untuk menjadi ilmuwan menemukan (masalah) penemuan (dan memecahkannya) di bidang apa pun, yaitu meneliti seluruh informasi yang ada di bidang itu sebelumnya dari lama hingga terbaru. (Sebuah cara yang mudah tetapi sangat susah bagi mereka yang tidak berminat atau malas). Mengenai informasi dari buku, menurut Isadore Gilbert Mudge, dari penggunaan buku dibagi dua, yaitu buku dimaksudkan untuk dibaca seluruhnya guna keterangan, dan buku yang dimaksudkan untuk ditengok atau dirujuk guna suatu butir keterangan pasti. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang pertama luas menyeluruh, yang kedua dalam terbatas hal tertentu.

    Berkaitan menonjolkan kelebihan pertama, Dadang Supardan (2008: 3-4), menyusun buku Pengantar Ilmu Sosial (Sebuah Kajian Pendekatan Struktural), cetakan pertama, Januari 2008, yang mendapat inspirasi pemikiran ilmuwan sosial Jerome S. Bruner, bahwa mata pelajaran apa pun lebih mudah diajarkan (dan dipahami) secara efektif bila struktur (fakta, konsep, generalisasi, dan teori) disiplin ilmu seluruhnya dipelajari lebih dahulu, yaitu lebih komprehensif, mudah mengingat, mengajarkan, dan mengembangkannya.

    KLAIM sah paling umum dan efektif mengajukan paradigma baru adalah memecahkan masalah yang menyebabkan paradigma lama mengalami krisis (Thomas S. Kuhn).

    Lalu, apa hubungannya buku pengangan universitas yang baik ini dengan debat keraguan sosiologi?

    Dadang Supardan (2008:98), mengutip David Popenoe, menjelaskan jika ilmu sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu pengetahuan maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata (obvious). Dadang mengungkap, ahli sosiologi sering menyatakan bahwa mereka banyak menghabiskan uang untuk menemukan apa yang sebenarnya hampir semua orang telah mengetahuinya. Sosiologi dihadapkan dengan dunia masyarakat yang sebenarnya tidak begitu aneh, di mana orang-orang yang secara umum sudah akrab ataupun mengenal konsep-konsep yang diperkenalkan dalam bidang sosiologi. Sebaliknya, sebagai pembanding, dalam pokok kajian pada kelompok ilmu kealaman adalah sering berada di luar dunia dari pengalaman sehari-hari. Dalam menjawab permasalahan ilmu pengetahuan alam, temuan kajiannya memberikan ungkapan dalam bahasa dan simbol-simbol di mana kebanyakan orang hampir tidak memahaminya atau benar-benar dibawa dalam pengenalan konsep yang benar-benar baru.

    Lalu, inikah bukti kekurangan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan? Ya (salah satunya).

    Sebenarnya sangat jelas lagi, masalah sosiologi ini sudah diungkap Dadang Supardan (2008: 4) sendiri di awal dengan mengutip Bruner pula. Menurut Bruner, terdapat tiga tahapan berpikir seorang pembelajar, yaitu enactive, iconic dan symbolic. Enactive terfokus pada ingatan, lalu iconic pola pikir tidak terbatas pada ruang dan waktu, tetapi seluruh informasi tertangkap karena adanya stimulan, kemudian tingkat symbolic, dapat dianalogikan masa operasi formal menurut Piaget. Dalam tahapan terakhir, siswa (dan siapapun – QZ) sudah mampu berpikir abstrak secara keilmuan pada tingkat yang dapat diandalkan, mengingat sudah mampu berpikir analisis, sintesis dan evaluatif.

    MENOLAK satu paradigma tanpa sekaligus menggantikannya dengan yang lain adalah menolak ilmu pengetahuan itu sendiri (Thomas S. Kuhn).

    Artinya, sosiologi yang dipelajari di sekolah dan universitas tanpa perangkat simbolik selama ini kadaluarsa dan hanya dapat disebut pengetahuan saja. Dan, untuk membuktikan kekurangan sosiologi tak perlu jauh-jauh (meski boleh agar nampak jelas) dengan ilmu kealaman, cukup dengan ilmu pengetahuan mantap masih golongan (ilmu) pengetahuan sosial juga yaitu ilmu ekonomi. Bukankah ilmu ekonomi dianggap ilmu (ratunya golongan ini) karena mencapai tingkat analogi simbolik bahasa ekonomi? (Karena itulah definisi ilmu pengetahuan dalam paradigma baru TQZ bukan kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), tetapi kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), membentuk kaitan terpadu dari kode (symbolic), satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu. Untuk ilmu pengetahuan sosial paradigma milenium ketiga telah saya tetapkan International Code of Nomenclature TQO Employee fungsinya Operation dengan kode O, TQC Supervisor (Control-C), TQS Manager (Service – S), TQI Senior Manager (Information – I) dan Director (Touch – T)).

    Jadi, para ilmuwan sosial, sebenarnya sudah tahu sosiologi yang dipegang selama ini tidak layak disebut sebagai ilmu pengetahuan, meski belum tahu pemecahannya. Lantas, apa pentingnya solusi re-imagining sociology sekarang? Sangat pasti, salah satu cara memahami masyarakat untuk mengatasi krisis dunia (negara, bangsa, daerah, organisasi, usaha dan pribadi) yang semakin kompleks dan buntu selama ini. Dan, bagi lembaga penelitian dan pendidikan baik organisasi dan pribadi harus proaktif berbenah. Adalah fatal dan picik mengajarkan (ilmu) pengetahuan yang (kalau) sudah diketahui kadaluarsa dan salah, di berbagai universitas dan sekolah. Dunia (di berbagai belahan) sudah berubah.

    KALAU teori saya terbukti benar, Jerman akan mengakui saya sebagai seorang Jerman dan Prancis menyatakan saya sebagai warga negara dunia. Tetapi kalau salah, Prancis akan menyebut saya seorang Jerman, dan Jerman menyatakan saya seorang Yahudi (Albert Einstein).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

Leave Comment