Ludruk dan Identitas Budaya Rakyat

Apr 14th, 2008 | By PUSPeK Averroes | Category: OPINI PILIHAN

Oleh : Paring Waluyo Utomo

Macarin kamu
Enggak jauh beda
Dengan main ludruk

Pake’ nanya silsilah
Golongan darah
Ningrat atau umum
(JAMRUD, dalam “Ningrat”)

PERHATIKAN citra ludruk yang dibayangkan oleh kelompok musik Jamrud dalam syair “Ningrat” di atas. “Silsilah”, “Golongan Darah” dan “Ningrat” adalah identifikasi yang dilekatkan terhadap ludruk a la Jamrud sebagai derivasi-derivasi dari peristilahan feodal. Dengan demikian, bisa jadi, menurut Jamrud, ludruk merupakan kesenian produksi –dan bahkan representasi– kebudayaan feodal.

Jika demikian, tudingan Jamrud terhadap ludruk agaknya keliru alamat sangat jauh. Identifikasi sebagai produk kebudayaan feodal sesungguhnya lebih pantas untuk dialamatkan kepada ketoprak, sebuah kesenian milik the ruling class yang penuh dengan peragaan simbol-simbol feodalistik yang “dipaksakan” untuk dikonsumsi oleh rakyat. Hal ini tentu saja berbeda secara diametral dengan ludruk. Bahkan, sangat dimungkinkan bahwa ludruk terlahir sebagai budaya tanding atas dominannya ketoprak sebagai seni pertunjukan di masyarakat. Ludruk lahir sebagai agian dari keinginan untuk mengekspresikan kepentingan rakyat kebanyakan yang sering diabaikan dalam ketoprak.

Dari awal kelahirannya di daerah pedesaan, komunitas ludruk telah tidak akrab dengan kebudayaan adiluhung milik kaum elite atau kalangan penghuni keraton, bahkan berada pada posisi vis a vis. Ketika penduduk desa yang agraris (terpaksa) pindah ke kota dan menjadi pekerja atau buruh di sektor dagang atau usaha ekonomi modern lain yang industrial, seni pertunjukan ludruk juga ikut diboyong ke kota. Selanjutnya, panggung ludruk menjadi saksi mata dari siasat kebudayaan massa rakyat kecil asal pedesaan yang harus berhadapan dengan pesona dan paradoks hidup urban dan modern.

Sebelum boyongan ke kota, tradisi, upacara dan pertunjukan-pertunjukan sosial yang diselenggarakan di desa biasanya mampu mengajak seluruh warga desa dalam suatu solidaritas dan saling melengkapi. Sebutlah ritual Bersih Desa yang biasanya dilakukan setahun sekali, atau dilakukan dalam situasi khusus dimana Desa harus diruwat atau dislameti. Dalam masyarakat urban modern, menyelenggarakan upacara dan pertunjukan solidaritas sosial di tanah lapang seperti ketika masih di desa tersebut menjadi lebih sulit atau bahkan tidak mungkin lagi untuk dilakukan.

Maka, pertunjukan ludruk kemudian merupakan dirinya sebagai alat kohesi sosial untuk mengkomunikasikan problem kolektif masyarakat urban. Tidak cukup di situ, ludruk bahkan mampu berperan sebagai media agregasi kepentingan rakyat kebanyakan yang diartikulasikan menjadi kritik sosial, serta berpotensi menelurkan gerakan pembangkangan sipil (civil disobedient) yang lebih besar.

Merakyatnya ludruk antara lain tampak dengan ditampilkannya “parikan” sebagai suatu ciri khas dalam memfungsikan sebuah sindiran atau pasemon secara eksplisit. Sedangkan spirit, tematik dan nilai-nilai yang ingin disuarakan seniman rakyat melalui pementasan ludruk sebagai pasemon implisitnya.

Bentuk pasemon sebagai pilihan ekspresi rakyat terhadap ketidakadilan yang mereka rasakan sangat dipengaruhi oleh falsafah ‘mikul dhuwur mendhem jero’ yang telah lama mendominasi moral dan etika sosial masyarakat Jawa pada umumnya, termasuk Jawa Timur. Maka, idiom-idiom rakyat tentang perlawanan seperti rawe-rawe rantas malang-malang putung, sadhumuk bathuk sanyari bumi dan sebagainya berinteferensi secara proporsional dengan falsafah mikul dhuwur mendhem jero tadi. Hasilnya: nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Di sanalah sindiran atau pasemon secara efektif dalam menjalankan peranannya.

Meski demikian, posisi geografi entitas Kebudayaan Arek (Surabaya, Mojokerto, Sidoarjo dan sekitarnya) yang merupakan wilayah pesisir dan delta sungai telah mereproduksi pola “keras” sebagai ciri kebudayaannya. Akibatnya, meskipun bentuk kritik dan perlawanan dilakukan dalam bentuk sindiran subtil, tak urung membuat merah telinga kekuasaan. Kasus yang dialami oleh cak Durasim dengan parikan “Pagupon Omahe Doro, Melok Nippon tambah Soro” adalah kasus yang terangkat ke permukaan sebagai ikon kritik sosial yang direpresi secara kasar oleh kekuasaan Jepang kala itu. Selain Cak Durasim, tentu masih banyak seniman-seniman ludruk yang mengalami nasib semacam Cak Durasim, baik dari dulu maupun sampai sekarang.

Yang menarik, model represivitas ini bahkan tidak dijumpai dalam model kekuasaan tradisional. Dalam sejarah, sebagaimana Rendra (1984) mencatat bahwa kekuasaan tradisional tidak pernah memainkan kekuasaannya untuk memangkas kreativitas seniman ludruk, bahkan terhadap kritik yang ditudingkan kepada mereka. Jika mereka melakukannya, maka bisa dipastikan kekuasaan mereka akan mengalami delegitimasi sosial.

Represivitas kekuasaan terhadap ludruk justru ditemui pada masa kekuasaan Indonesia modern, terutama ketika Orde baru berkuasa. Represi ini berwujud titipan-titipan misi pembangunan yang harus dibawakan oleh seniman-seniman ludruk. Jadilah ludruk “disimpuhkan” di bawah tangan kekuasaan.

Ludruk, Kesenian Tradisonal dan Adanya Pakem
Selain itu, idiom “Pake’ nanya silsilah, Golongan darah, Ningrat atau umum” yang dipakai oleh Jamrud mungkin saja berarti hal yang lain, yakni tudingan mengenai bagaimana njlimetnya pertunjukan kesenian tradisional –termasuk juga ludruk. Persoalan njlimet ini tentu saja berkaitan dengan adanya pakem pada kesenian tradisional yang berupa ubo rampe-ubo rampe tertentu yang harus dipenuhi. Hal ini menimbulkan kesan elitis, karena meskipun dikatakan sebagai kesenian rakyat toh tak semua orang bisa memainkannya.

Elitisasi pertunjukan ludruk ini disangkal oleh Mas Sutak, seniman ludruk asal Malang. Baginya, masyarakat adalah ludruk yang sesungguhnya, sedangkan pertunjukan kesenian ludruk hanyalah sketsa dan media proyeksi dari ludrukan yang lebih besar, yakni masyarakat. “Makanya, Mas, jangan heran kalau ludruk sekarang kembang kempis, bahkan mati. Lha wong masyarakat sekarang sudah bukan ludruk lagi, tapi sudah jadi mesin ekonomi”, ujarnya gundah.

Kegelisahan serupa pun dirasakan oleh seniman ludruk yang lain asal Surabaya. Heri Prasetyo, seniman ludruk yang mengkhususkan diri pada tari, menegaskan pentingnya kreativitas para seniman ludruk sendiri. “Bagaimanapun masyarakat ludruk sendiri yang harus memiliki kesadaran membangun sumber daya manusianya, sehingga keberadaannya tidak terpinggirkan.”

 

del.icio.us Digg Facebook Technorati Google StumbleUpon Yahoo

One comment
Leave a comment »

  1. Kata yang tv tv itu, “Good Point” :D

Leave Comment