Manelanjangi Klaim Globalisasi

Feb 26th, 2008 | By PUSPeK Averroes | Category: REVIEW BUKU

untitled-1-copy.jpgREVIEW BUKU 

Judul : Globalisme, Bangkitnya Ideologi Pasar
Judul Asli : Globalism, The New Market Ideology
Penghargaan : Michael Harrington Book Award untuk kategori New Political Science Section tahun 2003.
Penulis : Manfred B. Steger
Halaman : xi + 282
Penerbit : Lafadl, Jogjakarta
Bulan Terbit : Juni 2006

OLEH : AHMAD AINUR RAHMAN

Sosiolog besar Inggris, Anthony Giddens dalam bukunya Runaway World percaya bahwa umat manusia sekarang tengah melalui sebuah periode besar transisi sejarah. Perubahan yang mempengaruhinya tidak hanya sebatas di satu wilayah saja di muka bumi ini, tetapi menjangkau hampir setiap tempat.

Kehidupan yang tengah kita rasakan, kata Giddens berkembang dibawah pengaruh ilmu, teknologi dan pemikiran rasional yang berasal dari Eropa abad ke-17 dan ke-18. Budaya industri barat dibentuk oleh pencerahan (enlightenment) dengan berbagai tulisan para pemikir yang melawan pengaruh agama dan dogma serta ingin menggantikannya dengan pendekatan yang lebih berdasarkan akal budi dalam kehidupan praktis.

Menurut pandangan orang-orang seperti Karl Marx, Max Webber atau bahkan Novelis George Orwell, dengan perkembangan ilmu dan teknologi dunia seharusnya menjadi lebih stabil dan tertib. Akan tetapi bagi Giddens, dunia yang kita tempati sekarang tidak begitu tampak atau terasa seperti yang mereka perkirakan. Bukannya semakin dapat dikendalikan, dunia ini tampaknya justru diluar kendali kita. Sebuah dunia yang tunggang langgang (runaway world).

Lalu secara tiba-tiba muncul istilah globalisasi. Mungkin benar apa kata Giddens, globalisasi sekarang bukanlah kata yang sangat menarik atau elegan. Namun demikian, tidak ada seorangpun yang ingin memahami prospek kehidupan di abad ini dapat mengabaikannya.

Lewat buku Globalisme Bangkitnya Ideologi Pasar, akademisi Amerika Serikat, Manfred B. Steger juga seolah-olah tidak ingin ketinggalan dalam perdebatan akademik mengenai globalisasi tersebut.

Sama seperti Giddens, dalam pendahuluannya, Stager berpendapat bahwa kata-kata “kita hidup dalam era globalisasi” sekarang sudah menjadi ungkapan yang klise. Maksudnya, globalisasi saat ini jamak dilukiskan sebagai penyusutan ruang dan waktu yang belum pernah terjadi sebelumnya, ia juga mencerminkan peningkatan interkoneksi dan interdependensi sosial, politik, ekonomi, dan kultural dalam skala global.

Namun, dibalik term yang kelihatannya sederhana itu ternyata globalisasi mengandung berbagai macam tafsir dari para komentatornya, yang bahkan acapkali bertentangan. Meminjam dongeng klasik Budha tentang enam murid buta yang menggelar pertemuan untuk memegang seekor gajah, Steger mencoba menghadirkan beragam dan sengitnya perdebatan mengenai globalisasi.

Untuk memeroleh gambaran tentang gajah, murid-murid buta yang tidak pernah tahu seperti apa bentuk binatang tersebut kemudian memutuskan untuk menyentuhnya. Hasilnya, gambaran mereka tentang gajah sangatlah berbeda. Ada yang berpendapat gajah seperti pilar raksasa, ular panjang, lembing yang tajam dan besar, kipas raksasa dan lain-lain. Akhirnya perdebatan sengit-pun pecah, malah murid keenam yang berada di antara kaki gajah dan tidak bisa menyentuh binatang tersebut menuduh teman-temannya mengarang cerita bohong, tentang sesuatu yang tidak eksis, bahwa tidak ada sesuatu yang disebut “gajah”.

Sebagai representasi muktahir dari dongeng kuno tersebut, perdebatan tentang globalisasi terjadi dalam dua arena yang terpisah namun berhubungan. Satu pertempuran terjadi dalam dinding sempit akademis, sedangkan pertempuran lainnya terjadi di arena wacana publik. Satu berfokus pada dimensi analitisnya dan satu di dimensi normatif/ ideologisnya. Meskipun partisipan utama perdebatan akademik ini hidup dan mengajar di negara-negara kaya bagian utara, terutama Inggris dan Amerika serta memiliki kerangka intelektual yang sama, para akademisi ini mempunyai perbedaan pandangan yang sangat tajam mengenai definisi globalisasi, skala, kronologi, dampak dan akibat kebijakannya. (hal 28-29).

Persoalan Ideologi.

Berbeda dari banyak kajian globalisasi lainnya, disamping menghadirkan fenomena empiris, buku pemenang Michael Harrington Book Award ini juga terutama menceburkan pembahasannya dalam praktik ideologi. Menurut pemikir neo-marxis Louis Althusser, ideologi memebentuk pandangan dunia yang dipakai orang untuk hidup dan mengalami dunia. Dalam pengertiannya ideologi tidaklah palsu, karena ia membentuk kategori-kategori dan sistem-sistem reperesentasi yang digunakan oleh kelompok-kelompok sosial untuk memahami dunia. Ideologi juga adalah sesuatu yang dialami dalam hidup sehari-hari.

Atas pijakan inilah Steger membedakan globalisasi dan globalisme. Kalau globalisasi merupakan sebuah kondisi material, globalisme adalah bungkus ideologi yang berupaya mengurapi globalisasi sebagai sebuah paket bujuk rayu untuk memelintir realitas, melegitimasi dan mengedepankan kepentingan kekuasaan para pendukung pasar bebas, dengan identitas kolektif dan personal sehingga cerita tentangnya merupakan kondisi yang tidak bermasalah sama sekali.

Dengan menggunakan analisis wacana kritis warisan mazhab Frankfurt, Steger sadar ideologi pasar bebas sekarang telah menjadi dominan dan merentang tidak hanya pada tataran ekonomi dan politik. Ia juga termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari individu-individu di hampir seluruh dunia. Wacana tentangnya mengalir dalam darah dan dekat dengan urat nadi kita, sehingga banyak yang “tidak sadar”, kenapa meminum coca-cola lebih prestise dari pada menenggak teh.

Meski pengajar Illinois State University ini mengakui bahwa proses kultural memberikan saham yang sangat besar dalam pemahaman kita tentang globalisasi, tetapi dia masih yakin praktik ekonomilah yang memulai semuanya.

Menurut Steger, praktik tersebut bisa dilacak dalam dua dekade terakhir, yaitu ketika konsep globalisasi menjelma menjadi metafora baru kelompok utopia pasar abad ke-19 bagi pandangan neo liberal mereka. Pandangan ini berakar pada gagasan filsuf Inggris seperti Adam Smith, David Ricardo dan Herbert Spencer.

Smith mendasarkan pandangannya pada terpisahnya ekonomi dari politik karena status ekonomi yang lebih superior. Pasar adalah sesuatu yang berjalan secara otomatis (self regulating) yang mengarah pada sebuah keseimbangan akibat adanya tangan gaib (invisible hand). Segala bentuk intervensi pada pasar termasuk di dalamnya regulasi pemerintah, berarti mencampuri efisiensi alamiahnya. Menurut Steger pandangan Smith ini merupakan awal sekaligus menjadi tulang punggung doktrin kebebasan ekonomi kontemporer. Prinsip laissez-faire yang melakukan pembelaan terhadap perdagangan bebas, dilengkapinya dengan prinsip laissez-passer terutama penghapusan pajak impor dan aliran modal antar negara (hal 14).

Seperti Smith, teori Ricardo tentang keunggulan komparatif dan keyakinan Spencer yang menempatkan perdagangan bebas sebagai bentuk paling beradab dari persaingan alamiah manusia telah menjadi kitab suci pendukung globalisasi saat ini.

Menurut mereka, untuk mewujudkannya negara seharusnya cukup menyediakan kerangka keamanan saja. Kebijakan yang harus disemaikan haruslah berupa privatisasi perusahaan publik, deregulasi kontrol negara, liberalisasi perdagangan dan industri, potongan pajak yang besar, kontrol ketat organisasi buruh serta pengurangan belanja publik. (hal 17-19).

Dalam narasi historis, globalisasi ekonomi akhirnya tertancap kuat sejak pasca perang dunia II hingga terjadinya Konfrensi Bretton Woods di tahun 1944. Digawangi Inggris dan AS, pertemuan ini menghasilkan kesepakatan untuk merubah kebijakan proteksi selama masa perang menjadi liberalisasi perdagangan internasional dengan seperangkat aturan mainnya. Konferensi ini juga melahirkan tiga lembaga ekonomi Internasional dominan seperti IMF, Bank Dunia dan GATT yang dikemudian hari menjelma menjadi WTO. Utang luar negeri, perdagangan bebas, investasi asing langsung (foreign direct investment) dan aliran keuangan internasional melalui perusahaan-perusahaan multinasional lalu menjadi gerbong lajunya perkembangan globalisasi.

Ekspansi ekonomi ini lalu menggurita dan menemui pembenarnya setelah Uni Sovyet yang menerapkan proteksi ketat pada perekonomiannya ternyata hancur berkeping-keping. Tetapi “keberhasilan besar” kaum globalis adalah peselingkuhannya dengan kekuatan politik dominan negara “utara” dan sebagian elite korup di “selatan” yang notabene sangat diuntungkan oleh praktik liberalisasi pasar mereka.

Dengan kecanggihan ideologi dan sebaran luas media penyampainya, kelompok neoliberal berupaya menyemaikan pengertian yang tidak kritis mengenai globalisasi ke alam pikiran masyarakat dengan klaim yang mereka sebut sebagai keuntungan liberalisasi pasar yang merentang dari peningkatan standard hidup global, efisiensi ekonomi, kebebasan individu dan demokrasi serta kemajuan teknologi yang belum pernah ada sebelumnya. Padahal kenyataannya, hanya sedikit saja kaum menengah yang teruntungkan dan menjebloskan banyak orang lainnya dalam jurang kemiskinan yang memilukan. Jadi tidak usah heran, meskipun dalam indeks makro ekonominya Indonesia mengalami peningkatan “menggembirakan” diakhir tahun 2006 ini, tetapi angka kemiskinan dan pengangguran terus saja meningkat.

Kondisi yang seperti ini sekarang mulai menimbulkan perlawanan dimana-mana entah itu dari kaum “kiri” yang berorientasi pada egalitarianisme internasional maupun kaum “kanan” yang mengusung proteksi ekonomi nasional. Pemimpin Partai Reformasi AS, Patrick Buchanan, pendiri Serikat Rakyat Jerman (DVU), Gerhard Frey, Presiden Venezuela, Hugo Chavez, serta banyak LSM anti globalis internasional, adalah sederet penghujat ideologi pasar yang mengemuka. Namun secara cerdik kaum globalis selalu “meng-upgrade” siasatnya dengan menampilkan wajahnya yang manusiawi tetapi tidak pernah melakukan aksi significant untuk memperbaiki kesejahteraan bagi banyak orang di dunia ke-tiga.

Manfred Steger selalu mengingatkan untuk terus berhati-hati agar tidak terhegemoni oleh rayuan para idelog pasar yang berusaha mempengaruhi landasan nalar (ground of thinking) kita. Buku ini menjadi berbeda karena penulisnya tidak pesimistik dalam memandang globalisasi yang seolah-olah tidak terhindarkan dan tidak bisa dirubah, sebagaimana yang selalu dihembuskan oleh kaum skeptis radikal.

Steger mengakhiri karyanya dengan pemahaman bahwa pendidikan yang membebaskan dan media yang emansipatoris adalah salah satu strategi progresif untuk melawan ideologi dominan tersebut.

 

del.icio.us Digg Facebook Technorati Google StumbleUpon Yahoo

Leave Comment