Cinta, Dasar Keadilan Umat Manusia
Feb 25th, 2008 | By PUSPeK Averroes | Category: OPINI PILIHANOleh Benny Susetyo *
A
GAMA hadir di bumi ini untuk menegakkan keadilan. Agama seharusnya menemukan urgensinya dalam tata dunia saat ini yang dipenuhi dengan kebencian, kekerasan, peperangan akibat adanya ketidakadilan. Tatanan ekonomi tercipta tidak adil terutama karena negara miskin semakin tak berdaya menghadapi utang dan memperbesar ketergantungannya pada negara maju.
Inilah kenyataan yang membuat wajah dunia semakin kehilangan harapan. Karena terjadi ketimpangan sosial di segala bidang, maka harapan buat si miskin dan si lemah makin tipis. Ketidakadilan telah membuat cara-cara kekerasan dengan segala wajahnya tumbuh subur di berbagai belahan bumi ini. Dunia menjadi sesuatu yang menakutkan untuk dihuni karena satu dengan lainnya kehilangan damai di hati. Damai, yang selama ini dicita-citakan oleh umat manusia, sirna karena manusia jatuh menjadi serigala untuk memangsa lainnya.
Situasi dunia seperti inilah yang membuat umat manusia dipanggil agar berusaha berjuang mewujudkan keadilan bagi semua. Umat manusia beragama berkewajiban untuk menolong saudaranya yang tertimpa ketidakadilan, dalam skala kecil atau besar, individual atau institusional, seagama maupun antar-agama.
Itulah yang terungkap dari Paus Benediktus XVI. Paus mengajak seluruh pemimpin dunia, serta kita semua, sebagai umat beriman, khususnya Gereja Katolik, untuk memperbarui tata dunia baru. Lewat komitmen untuk terus-menerus menegakkan keadilan di segala bidang Keadilan merupakan manifestasi dari cinta Allah sendiri, yang mau memberi diri-Nya untuk umat manusia. Gereja terpanggil untuk mewujudkan cinta itu tanpa dibatasi kepentingan ideologi dan propaganda agama.
Hal tersebut tercermin dalam ensiklik pertama dengan menggunakan judul berbahasa Latin “Deus Caritas Est” (Allah itu Kasih). Ensiklik itu sendiri akan dikeluarkan serempak dengan terjemahan bahasa Inggris, Prancis, Italia, Portugis, dan Spanyol. Lewat ensiklik ini Paus Benediktus XVI ingin menggarisbawahi komitmen Gereja untuk terus menerus berusaha menegakkan keadilan sosial.
Hal ini merupakan panggilan dasar Gereja untuk mewujudkan kasih. Beberapa keterangan menyatakan, Paus Benediktus menggunakan dua konsep kunci dalam ensiklik itu, yakni eros (asmara) dan agape (cinta yang tak bersyarat, spiritual dan tidak mementingkan diri sendiri). Eros, menurut Paus, memungkinkan adanya sebuah cinta yang tidak mementingkan diri sendiri dan sesungguhnya hal itu berasal dari sumber kebaikan yang sama, yaitu dari Sang Pencipta. Eros bisa ditransformasikan ke dalam agape dalam pengertian bahwa dua orang yang sungguh mencintai tidak lagi mementingkan diri sendiri, tapi berupaya demi kebaikan yang lain. Inilah makna cinta sejati.
Namun Paus mengingatkan bahwa cinta kasih –dalam pengertian Gereja– tidak dapat dibandingkan dengan suatu dorongan kemanusiaan untuk menolong sesama. Cinta kasih itu “ungkapan mendasar” dari tindakan kasih personal Allah dalam menciptakan kita, “dengan membangkitkan di dalam hati kita dorongan cinta, yang merupakan cerminan dari Allah pencinta yang menciptakan kita sesuai citra-Nya.”
Dengan begitu maka Deus Caritas Est bisa diberi makna bahwa semua cinta datang dari Tuhan. Dan melalui seruan Paus Benediktus yang mengajak semua pemimpin bangsa ini untuk berusaha kuat dalam rangka mengusahakan keadilan bagi seluruh manusia. Ini artinya pemimpin berkewajiban menolong si miskin dan si lemah dari keterbelengguannya. Pemimpin negara kaya tidak boleh arogan dalam menentukan arah kebijakannya sehingga merugikan negara miskin.
Komitmen menegakkan keadilan adalah sumber cinta yang dimiliki oleh seluruh umat manusia. Dasar dari itu semua adalah karena Tuhan telah mencintai lebih dahulu kepada manusia. Dasar inilah yang seharusnya bisa menggerakkan umat manusia untuk saling berbagi dan peduli terhadap manusia.
Tindakan ini harus bisa dimaknai bahwa ‘mencintai’ adalah manusiawi dan merupakan anugerah Tuhan, serta sama sekali tidak terkait dengan ideologi apapun. Mencintai adalah cara untuk mengalami ‘cinta’, dan diharapkan dengan cara ini akan melahirkan Terang Tuhan yang bercahaya. Mencintai adalah dasar bagi umat manusia untuk bersama-sama mewujudkan nilai keadilan sebagai manifestasi dari cinta. Cinta akan berhasil melampaui kekerasan dan dendam karena di dalam cinta itu semua manusia disatukan dalam kesatuan bersama untuk mencintai Tuhan.
Melalui cinta, manusia dipanggil untuk tidak mementingkan dirinya sendiri dan mencari untung sak karepe dhewe. Lewat seruan ini Paus Benediktus mengingatkan agar sebuah perubahan menuju tata dunia baru mesti dilandasi dengan kemauan pemimpin semua negara agar lebih mementingkan keadilan bagi semua.
Meskipun kelihatan remeh karena kita ‘hanya’ kembali diajak untuk memperkuat tindakan cinta dan mencintai, namun inilah masalah mendasar bagi ketidakadilan tata dunia ini. Kekerasan, kebencian, dendam kesumat dkk adalah tindakan yang menegasikan cinta.
Globalisasi dan ketidakadilan telah menjadi fenomena yang hampir diterima secara seiring. Ketika globalisasi telah menjadi ‘agama baru’ manusia modern, seolah sulit bagi kita untuk melahirkan keadilan karena dalam hal ini berlaku siapa kuat siapa menang. Kini pertanyaannya adalah bagaimana para pemimpin bangsa termasuk pemimpin agama bekerja melindungi kaum miskin yang pasti hancur akibat globalisasi ini.
Kita bisa merefleksikan pernyataan Uskup Hongkong, Mgr Joseph Zen Ze-kiun yang mengatakan bahwa globalisasi jika mengandung prinsip-prinsip keadilan dan cinta kasih, bisa membawa kemajuan. Namun, jika diorientasikan semata-mata untuk perolehan keuntungan dan persaingan tanpa ampun, ini akan menjadi sebuah mesin “yang menghasilkan kekayaan bagi segelintir orang tapi menghancurkan orang-orang yang tidak mampu membela diri dalam upaya untuk bertahan hidup”.
Jelas bahwa yang sudah ada selama ini globalisasi tidak akan memiliki cinta kasih jika diatur oleh orang-orang serakah dan ambisius dan enggan mendengarkan kritik. Jika globalisasi adalah keniscayaan zaman, maka tugas pemimpin bangsa-bangsa adalah untuk memperjuangkan agar globalisasi terjadi tanpa harus memperdayai kaum miskin.
*)Penulis adalah Rohaniwan
