Yik Mang: Saya Sering Kumpul dengan Ulama’ Syi’ah
Feb 23rd, 2008 | By PUSPeK Averroes | Category: BINCANG BUDAYAWAWANCARA TOKOH
Habib Abdurrahman Assegaf adalah salah satu tokoh pergerakan Islam di Jawa Timur, khususnya Pasuruan. Santun namun berbicara blak-blakan adalah ciri khasnya. Ia memimpin sebuah pesantren di Rejoso Pasuruan dengan ratusan santri yang kebanyakan dari kelompok tidak mampu dan yatim piatu. Yik Mang, -begitu beliau akrab dipanggil- adalah satu murid dari (alm) Syeikh Maliki, ulama besar sunny yang sering menjadi rujukan kaum nahdiyin di Indonesia. Yik Mang yang pada saat ini mengkomandani Front Pembela islam (FPI) Jawa Timur menilai bahwa pertikaian Sunny-Syi’ah harus segera dihentikan karena hanya akan menguntungkan musuh-musuh Islam. Untuk lebih bisa mengenal pandangan-pandangannya, berikut ini petikan wawancara PUSPeK Averroes di tengah acara Burdah (Hadrah dengan membaca Sholawat Burdah) yang menjadi aktifitas rutin pesantren ini setiap Jumat sore.
Rian : Ikhtilaf dalam Islam menurut habib itu bagaimana?
Perbedaan pendapat dalam umat Islam wajar, tidak ada masalah, tidak ada masalah sama sekali. Islam ya hidup dari perbedaan itu, selama bukan iftiroq. Kalau ikhtilaf boleh saja, wajar. Dalam Al Quran itu yang dilarang : Wa’tashimuu bi hablillahijamii’an wa laa Tafarroquu. Jadi, selama masih dalam kerangka hablulllah, prinsip Al Quran dan As Sunnah itu bukan termasuk iftiroq. Kalau ikhtilaf,(Nabi pernah berpesan:) ikhtilafi ummatii rohmah. Cuma kadang-kadang orang salah kaprah, menyikapi ikhtilaf seperti iftiroq, kaku, tidak ada toleran, keras. Tapi sebaliknya, ada penyimpangan dari hablullah, keluar dari Al Quran dan Assunah, ada dasarnya, ini malah dianggap ikhtilaf. Bahkan yang iftiroq yang dari dahulu : al yahuudu wa an nashooro, itu malah dikesankan ikhtilaf. Ini malah didekat-dekatkan, katanya sama-sama ahli surga.
Sementara yang hanya perbedaan fiqh itu malah dibesar-besarkan. Beda ijtihad, beda organisasi, beda metode dakwah, beda performa dalam perjuangan, ini dikesankan iftiroq yang tidak bisa ditolelir dan orang-orangnya sudah tahulah, kebanyakan yang saya amati adalah mereka yang didikan Amerika, seperti paham sekuler, liberal, yang ini sudah jelas iftirooqon bangiidan. AS dan antek-anteknya itu tidak akan bisa berbuat banyak untuk menghancurkan umat silam kecuali kalau mereka memakai orang Islam sendiri. Karena itu ada ungkapan Al Islaamu mahjuubun bil muslimin. Islam itu terhijab oleh umat muslim sendiri.
Paring : Mengenai demo Syi’ah di Bangil yang berlangsung beberapa waktu yang lalu menurut pendapat Anda?
Saya sudah sampaikan ke kawan-kawan yang turun itu. Bahwa pertikaian di kalangan umat Islam itu disinyalir adalah skenario Amerika. Ketika demo mendukung Iran menguat, maka demo anti Iran juga dimunculkan. Kalau program nuklir Iran, saya mendukung 125 persen. Ini masalah politik, semacam usaha untuk membenturkan umat Islam yang satu dengan umat Islam yang lain.
Paring : FPI apa tidak turun dalam aksi di Banghil itu?
Unsur FPI mungkin ada yang ikut. Dan selama ada bukti kongkrit adanya penghinaan ulama’-ulama’ ahlus sunnah dan para shahabat dan salafus sholih oleh “oknum” syi’ah di sana. Saya mendukung itu
Paring : Kalau tidak ada bukti?
Saya tidak akan melakukan apa-apa. Meskipun mungkin ada kecurigaan, tapi kita tidak boleh bertindak atas dasar kecuriagaan itu. Ini standart FPI kalau turun. Seperti penutupan tempat maksiat, kemungkaran, dan sebagainya FPI selalu berangkat dari bukti. Dan bukti itu tidak hanya dari keterangan polisi, tetapi memang ada masyarakat dan ada saksinya. Baru kalau sudah klimaks, saya turun. Itu pilihan paling akhir seperti itu, ketika proses-prosenya memang tidak bisa ditolelir. Media umumya selalu melihat babak akhir ini, proses awalnya tidak dilihat. Ini yang selama ini merusak opini masyarakat terhadap FPI.
Kemarin itu, nampaknya sudah. Anak-anak FPI, NU, sudah ada ada bukti yang mereka sampaikan ke kepolisian. Ya saya mendukung saja, kerena saya sendiri tidak melihat langsung bukti itu. Secara pribadi dua hari sebelum aksi itu sudah saya sampaikan. Nampaknya oknum-oknum dari Syi’ah yang ekstrim yang awalnya memancing. Kalau yang moderat oke saja. FPI itu tidak mencari-cari, kalau-mencari cari iru termasuk tajassus. Ahlus sunnah itu tidak mendasarkan tindakannya dari dzon.
Memang kalau didasarkan pada dugaan, Syi’ah memang memilki potensi untuk menghujat para shahabat. Awalnya kan dari konsep khilafah, pengganti Nabi. Ada yang berpendapat penggantian itu bil washiyah, bil musyawarah, ada lagi bil isyarah. Nah, dalam pandangan syi’ah, mengakui bahwa kepemimpinan Nabi itu bil washiyah. Maka akan mengganggap shahabat Abu Bakar dan Umar sebagai penghianat bahkan akan dianggap kafir. Nah, dari akar ini lah mengapa syi’ah itu memiliki benih, ya benih kebencian atau merendahkan sahabat Yang eksrim ini yang kemudian berwujud pada caci maki dan sebagainya. Ini bukan hal baru dalam Syi’ah.
Namun diantara mereka ada yang moderat, termasuk kelompok Syi’ah Zaidiyah, yang ada di Yaman. Itu nyaris tidak ada bedanya dengan ahlus Sunnah wal jamaah. Bahkan salah kitab dari ulama Syi’ah yang dikarang oleh Imam As Saukani di baca di pondok-0pondok pesantren NU di Indonesia seperti Subulus Salam, Syarah Bulughul Maraam, Nailul Authar. Pondok mana yang tidak membaca kitab-kitab itu. Jadi, kalau tasamuh (toleran) dalam ahlus sunnah wal jamaah itu memang harus, karena memang wataknya. Apalagi kalau dalam Ahlus sunnah wal jamaah itu ulamanya banyak. Di Fiqih ada Imam Syafi’i ada abu Hanifah, Imam Malik, Ahmad bin Hambal, At Tsauri dan lain sebagainya. Meski yang kemudian tetap eksis adalah Imam empat itu, karena yang lain tenggelam. Karena itu toleransi itu menjadi ciri khas Ahlus Sunnah, karena perbedaan itu memang sudah banyak ada diantara mereka.
Rian : Bib, pandangan Njenengan tentang Syi’ah di Indonesia bagaimana?
Terhadap kelompok syi’ah saya kira tidak ada masalah. Saya sering kumpul dengan ulama syi’ah. Teman-teman saya banyak yang syi’ah. Saya sering bilang begini “ Kalau ente macem-macem menghina shahabat, jangankan jahat kepada siapa, ente sudah jahat duluan dengan aku.” Biasa saya ini berkumpul dengan orang Syi’ah sejak dahulu. Mengenai kasus yang ramai itu tentunya disebabkan adanya oknum-oknum yang bermulut besar, yang suka memancing di air keruh, fanatis berlebaihan terhadap syi’ah-nya.
Rian : Apakah di Bangil ada bukti tentang penghinaan terhadap Sunny?
Memang dari informasi teman-teman di sana memang ada bukti bahwa oknum syi’ah melakukan celaan terhadap shahabat. Saya sendiri tidak tahu bagaimana bukti-bukti itu. Tapi pas saya tanya mereka bilang “Iya, Bib, Sudah ada bukti”. Mereka bilang tiga hari sebelumnya teman-teman sudah menyerahkan bukti ke kepolisian berupa lembaran-lembaran. Tapi karena memang saya tidak mengetahui langsung terlebih saya tidak memiliki kapasitas untuk menilai tentang agama, saya tidak bisa mengambil keputusan. Meski begitu, saya mendukung saja agar tidak diulangi lagi penghujatan terhadap shahabat. Kalau sudah ada penilaian terhadap bukti itu misalnya, dari kalangan NU sudah mengkaji dan memang ada oknum yang melakukan penghinaan terhadap shahabat saya akan turun yang paling depan.
Rians : Apakah Habib ikut dalam pertemuan di Polres malam sebelum sebelum aksi digelar?
Malam itu saya diajak kumpul di kepolisian, ada Bupati, ada kepolisian, ada tokoh ormas. Ya waktu itu ada dari wahabi, dari persis, dari NU, dan lain-lain. Kemudian ketika saya mendapat giliran untuk diminta berbicara menyikapi syi’ah. Saya sampaikan bahwa saya tidak akan berbicara tentang substansi ajaran syi’ah-sunny karena bukan pada tempatnya. Saya juga tidak akan berbicara tentang rencana demo. Saya akan menyampaikan pemikiran dan wawasan tentang pergolakan antara umat Islam. Saat ini konflik di tingkat dunia, karena memang ini sangat terkait dengan keinginan orang-orang kafir untuk membenturkan antar umat Islam sendiri, menimbulkan konflik di kalangan Islam. Mereka membuat lembaga-lembaga di mana-mana untuk tujuan itu, untuk menimbulkan konflik di tengah umat Islam dan bemper-bemper kesesatan. Oleh sebab itu sudah seharusnya tokoh-tokoh Islam tingkat dunia untuk berjuang menyikapi perbedaan yang ada.
Tidak hanya itu, saya mengharapkan kepada kelompok-kelompok Islam yang bermacam-macam itu tidak memaksakan ajarannya kepada umat Islam yang lain yang sudah memiliki paham sendiri. Dalam pandangan syi’ah, ahlus sunnah itu khan tidak sesat, ya sudah silahkan, tidak perlu memaksakan diri untuk merubah yang sunny menjadi syi’ah, ini jiwa besar yang harus dimiliki. Jadi bukan hanya toleran terhadap perbedaan yang ada, tetapi juga menahan diri untuk tidak menggarap komunitas yang sudah tidak mau untuk menerima paham baru. Demikian juga ahlus sunnah ga perlu repot-repot mempengaruhi orang Islam lain untuk masuk ahlu sunnah, tidak perlu datang ke Iran untuk ekspansi ahlus sunnah. Begitu juga wahabi (salafi) tidak perlu lah jauh-jauh datang ke sini untuk meng-wahabi-kan orang sunny. Toleransi tingkat dunia inilah yang diperlukan saat ini.
Kalau perbedaan antar umat Islam itu yang menyikapi para intelektual, para ulama itu mungkin tidak menjadi masalah. Tetapi masyarakat ini terkadang kita tidak tahu bagaimana tingkat emosinya dikhawatirkan dalam menyikapi perbedaan ini berlebihan. Kadang-kadang perbedaan sedikit saja menimbulkan konflik, ini yang harus disadari oleh para tokoh di dunia Islam. Apalagi di masing-masing kelompok itu ada ekstrimisatau kelompok orang-oramg yang suka bertindak ngawur.
Dalam tataran ulama’ tidak terdengar kata-kata itu, tetapi di kalangan bawah nyatanya sering muncul kata-kata penghinaan kepada ulama’ salaf, para shahabat, para habaib. Ini yang terkadang menimbulkan kemarahan di kalangan sunny. Makanya bagi yang Syi’ah tidak usah ekspansi ke masyarakat yang sudah kuat sunny-nya dan sebaliknya. Ini bisa menguntungkan persengkongkolan kaum kafir. Oknum-oknum syi’ah yang begini ini yang akan merugikan syi’ah sendiri. Dukungan Indonesia terhadap Iran bisa rusak gara-gara seperti ini khan? Karena itu saya kemarin tidak ikut.
Saya mempunyai guru, Abu Yazid Ahmad Alwi Al Maliki. Dia ulama yang sangat luar biasa ilmunya, ketokohannya diakui di kalangn sunny. Tapi yang lebih luar biasa dari itu adalah dia sangat toleran, dan ini yang harus dicontoh oleh ulama’-ulama dan tokoh Islam sekarang, dia orang bermadzhab Maliki dan murid-muridnya yang dari Indonesia adalah penganut imam Syafi’i. Selama dia mengajar tidak pernah mengajarkan madzhab Maliki, apalagi memberi tugas kepada para santri untuk mengembangkan madzhab Maliky untuk dikembangkan di daerah asalnya masing-masing. Karena jika seperti ini, bisa jadi, jangankan Syi’ah, yang penganut Madzhab Syafi’i pun akan diajak untuk bermadzhab Maliki.
Rian : Setelah menyampaikan itu, tanggapan yang lain bagaimana, Bib?
Semua puas. Ketika saya sampaikan seperti itu sepertinya semua mau menerima. Saya tidak menyinggung siapapun, karena saya berbicara secara makro. Ini perlu di bawa ke tingkat atas, bukan diselesaikan ke tingkat lokal Bangil, saya tidak tertarik membahas tentang syi’ah Bangil. Inilah yang lebih penting, lebih dari toleransi, yaitu tidak usah menggarap sunny, tidak usah menggarap syi’ah, tidak usah nggarap wahabi, mari masing-masing jalan sendiri-sendiri. Tidak seperti fenomena yang terjadi sekarang, orang Indoesia belajar di Iran kemudian menerima fasham syaih, kemudian menyebarkan dan berekspansi ke Indonesia ketika dia pulang. Jadinya begini ini. Begitu juga dengan yang belajar di Saudi, didoktrin faham Wahabi, kemudian menyebarkannya.
Rian : Bib, Secara organisasi sikap FPI gerakan syi’ah di Bangil?
Saya wanti-wanti kepada anak-anak yang (waktu itu ingin turun) agar tidak berbuat anarkhis. Dan saya kira ini juga bisa menjadi pelajaran berharga kepada oknum syi’ah agar bisa menahan diri.
Paring : Habib tidak turun karena tidak ada bukti?
Saya sendiri tidak lihat. Sejak awal katanya di tangan kapolres. Sebelum turun itu sudah disampaikan. Katanya menghujat sahabat. Selama mereka moderat, gak mau sama sahabat tetapi tidak menghujat, ya tidak masalah. Seperti Syi’ah Zaidiyah tadi lah. Syi’ah Zaidiyah itu nyaris sama kita tidak ada perbedaan (dengan sunny). Mereka hanya lebih ta’dhim ke Sayyidina Ali daripada Abu bakar, itu saja. Di sisi lain, kalangan habaib termasuk juga sunny, kecintaan terhadap Ali juga banyak. Dan mereka lebih sering menyebut syaidina ali dalam prnyebutan-penyebutan wajar saja karean Ali memang moyangnya, tetapi tidak diiringi dengan merendahkan shahabat lain. Sampai Imam Sya’roni dalm Kitab Thobaqot Al Kubro, dia mengatakan, wa minan naadzir an yujadu sariifun sunny.
Rian : Pesan Habib untuk Ukhuwah Islamiyah?
Sekarang dakwah madzhab harus ditinggalkan, dakwah Islam. Kalau ada oknum yang mendakwahkan madzhabnya ini termasuk orang yang memecah belah Islam. Jika Islam sudah terpecah belah, ini yang dikehendaki oleh Amerika, perselisihan seperti ini. Cuma yang sunny maupun yang syi’i tidak menyadari sehingga inilah menghambat penyatuan antar negara Islam. Bila perlu Ayatullah dari Iran menghimbau kepada umatnya di Indonesia untuk tidak melakukan dakwah ke Indonesia. “Hey Kaum syiah, jangan berdakwah di negara sunny, mereka itu saudara kita, umat Islam, bukan orang kafir”. Demikian juga Malik Abdullah di Saudi hendaknya menghimbau wahabi agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Intinya jangan sampai berbuiat sesuatu yang bisa menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam. (bluk)

yes
assalam………
saya ingin tanya. apakah FPI, HTI, Wahabi, JIL, dan ormas-2 yang laian, dari kelompok ini menganut Madzhap apa? atau ormas ini tidak ber madzhab.jawabannya kirim ke E-mail saya. makasih.
wassalam…………..
FPI = Oknum-oknum polisi yang membela Islam
Organisasi-organisasi muslim yang bringas didukung oleh oknum-oknum kepolisian & aparat keamanan pemerintah.
Sudah sering terjadi pengerusakan rumah-rumah ibadah umat lain, sweeping, fatwa-fatwa dan kekerasan lainnya yang dilakukan oleh organisasi muslim terhadap umat agama lain. Sedangkan sebagian dari para preman ini adalah anggota polisi dan aparat keamanan lainnya yang berpakaian sipil. Pemerintah juga bersikap seolah-oleh memberi semangat kepada preman-preman ini sehingga mereka merasa berada di atas hukum apapun yang berlaku di negara Indonesia.
Juga anggota polisi pada umumnya hanya menonton para preman yang melakukan pengerusakan & sweeping. Anggota polisi malah melindungi oknum-oknum yang berkelakuan bringas itu.
Sedangkan polisi dan aparat keamanan pemerintah seharusnya melindungi seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan agama, kepercayaan, suku, dsb.
Kita yakin bahwa ada umat muslim yang tidak mentolerir dan tidak setuju dengan kelakuan polisi dan aparat keamanan yang secara terang-terangan memihak kepada golongan mayoritas.
Tetapi, pemerintah tidak menyadari bahwa walaupun polisi dan aparat keamanan mempunyai senjata api, rakyat jelata (masyarakat muslim yang kurang simpati terhadap polisi) mumpunyai senjata yang jauh lebih ampuh dari pada senjata api. Sejata yang ampuh ini adalah agama.
Masyarakat muslim yang tidak simpati terhadap tindakan polisi yang memihak ini bisa mengeluarkan reaksi yaitu mereka bisa meninggalkan agama Islam. Mereka bisa mengalih ke agama lain. Kalau hal ini terjadi/sedang terjadi, maka senjadi api polisi itu tidak ada artinya.
Wa’alaikum Salam Mas Mul.
Untuk merespon lontaran dari anda mungkin perlu diskusi yang panjang dan perlu menyajikan beberpa referensi. Insya allah setelah ini akan kami kasih sedikit tanggapan.
FPI menurut beberapa tokoh yang sempat saya temui adalah semacam organisasi gerakan islam. Sesuai namanya mereka memilki prinsip untuk berjuan membela ajaran Islam dan harga diri kaum muslimin. Mereka dalam praktik beribadah adalah sunny, kebanyakan syafi’iyah. Dalam konteks ritual mereka mirip dengan NU. Namun dalam mengartikulasikan ekspresi keberagamaan mereka agak berbeda.
HTI pada prinsipnya adalah Partai Politik. Dalam kajian-kajian yang pernah saya ikuti, HT tidak mau terjebak kepada madzhab. HT lebih memilih untuk memilah-milah dasar hukum yang paling shohih meskipun lintas madzhab. Atau bisa dikatakan HT nyaris anti madzhab
Wahabi/Salafi juga sama. mereka ormas Islam. Dalam konteks fiqh mereka lebih banyak mengambil madzhab Imam Ahmad bin Hambal. Dalam konteks gerakan mereka merujuk kepada Ibnu taymiyah. Ulama’ulama wahabi banyak menuliskan buku-buku tentang pemurnian ajaran Islam sesuai Qur’an dan Sunnah.
JIL, namaknya bukan ormas, mereka adalah komunitas pemikir muslim muda yang kritis dan luar biasa.
Terima Kasih Mas Khairun. Ulasan anda ini semoga bisa dibaca oleh teman-teman FPI dan menjadi salah satu bentuk tawashou bil haq.
Kami tunggu respon anda lagi di sini dan di http://www.jelajahbudaya.com
ngobrol syiah? yuk ke dewicanda.blogspot.com